blog ini merupakan blog duta bahasa, berisi segala informasi mengenai pemilihan duta bahasa, berita-berita seputar para duta, kegiatan para duta dan pemikiran-pemikirannya.
 

25 Juli 2009

Animo Menjadi Duta Bahasa Meningkat

0 komentar

SEMARANG - Animo masyarakat Jawa Tengah untuk menjadi Duta Bahasa Jateng tahun ini meningkat. Ini terbukti, jumlah peserta pemilihan duta bahasa tingkat provinsi Jateng yang digelar Rabu (22/7) bertambah 12 orang dibanding peserta tahun sebelumnya.

Berlokasi di Gedung BKK Jl Supriyadi 37, pemilihan kini diikuti 62 peserta yang berasal dari perwakilan kabupaten/kota se-Jateng, perguruan tinggi, SMA, dan perseorangan yang mendaftar ulang.

Di ruang tertutup, Desi Presanti (Balai Bahasa Jateng), Sendang Mulyono (Himpunan Pembina Bahasa Indonesia), dan Widianto (Forum Bahasa Media Massa) menyeleksi ke-62 peserta tersebut satu per satu.

Drajat Agus Mourdowo selaku Koordinator Pengkajian Balai Bahasa Jateng mengatakan, penilaian tahun ini sangat menekankan pengetahuan peserta terhadap bahasa ibu dan pengetahuan budaya.

Dia menjelaskan, seleksi bertumpu pada kemampuan berbahasa peserta dalam mempresentasikan makalah. Makalah yang bertema kebahasaan dan kebudayaan yang mereka buat sebelumnya dipresentasikan dalam bahasa Inggris. Sedangkan kemampuan bahasa ibu diuji pada saat mereka mempresentasikan pengetahuan budaya dan pariwisata daerahnya.

Thonthowy Jawari, Kasubag Kebudayaan dan Kesenian Biro Bina Mental Provinsi Jateng, berharap dapat menemukan bibit unggul yang mampu menyosialisasikan pengguaan bahasa Indonesia maupun asing secara proporsional.

Dana penyelenggaraan kegiatan tersebut bersumber dari dana APBD. Dalam pemilihan bibit unggul tersebut diambil lima pasang juara. Mereka memperebutkan gelar juara serta hadiah berupa uang pembinaan, piala, piagam, dan buku kenang-kenangan dari Balai Bahasa.

Nana Riski Susanti (18), mahasiswi semester IV Unnes terpilih sebagai juara I putri. Perempuan asal Tegal itu mengaku tidak gugup saat penyeleksian karena sudah terbiasa mempresentasikan karya tulis dan puisinya di depan umum. Ketertarikannya dalam mengikuti pemilihan ini karena dia ingin mengembangkan kepribadian dan bakat kebahasaannya. Setelah ini, Nana akan berusaha menjadi mitra Balai Bahasa dengan menyosialisasikan penggunaan bahasa secara kontekstual dan proporsional.

Sementara Bagas Tria Rahmadadi (17) adalah putra Sukoharjo yang terpilih sebagai juara I putra. Calon mahasiswa UGM itu ingin memilimalisasi degradasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dia akan bekerja sama dengan pemkab untuk menyosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pada bulan Bahasa (Oktober) nanti, mereka berdua akan dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional. (K26-45)

Sumber : Suara Merdeka, 25 Juli 2009

Read more...

23 Juli 2009

ABUL & GIRA, "TRENDSETTER" MUDA BAHASA INDONESIA

0 komentar

SEBERAPA penting peran bahasa untuk Belia? Semuanya pasti bilang sangat penting, kan? Tanpa bahasa, manusia enggak mungkin bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Walau di Indonesia punya banyak bahasa daerah, tetap saja, yang resmi dipakai untuk berkomunikasi adalah bahasa Indonesia. Supaya penggunaan bahasa Indonesia lebih meluas lagi, Jawa Barat ternyata punya sepasang Duta Bahasa, lho! Pengen tau tugas mereka seperti apa? Simak obrolan belia dengan Gira Mayang Septantia dan Ahmad Hasbullah, Duta Bahasa Jawa Barat 2008 di bawah ini!

Sabtu (10/10) pagi menjelang siang di sebuah gerai donat, belia ngobrol banyak sama Gira dan Abul. Menurut mereka, gelaran pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat ini belum banyak yang tau. "Acara ini emang baru berlangsung selama tiga tahun. Belum banyak yang tahu karena sosialisasi lewat media kurang banyak dan waktunya pendek," kata Gira. Pemilihan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa ini, tadinya memang hanya ditujukan untuk mereka yang bener-bener berminat pada bidang ini. "Saya sendiri taunya udah dari tahun lalu karena diberi tahu temen yang anak Sastra. Tapi mulai tahun ini, lebih dibuka ke umum karena nantinya di pemilihan yang nasional, banyak pertanyaan mengenai wawasan umum," jelas cewek yang sedang mengambil magister kenotariatan di Unpad ini.

Kemudahan untuk mengikuti ajang ini juga didapat oleh Abul. "Kebetulan saya dan Gira juga ikutan pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat. Jadinya info tentang pemilihan ini didapat dari sana," kata cowok asal Garut ini. Menurut mereka berdua, seleksi yang harus mereka jalani selama lomba termasuk berat. "Ada tes menulis dalam tiga bahasa: Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Sunda, interview, presentasinya, sama ada juga Uji Kompentensi Bahasa Indonesia (UKBI). Yang terakhir ini adalah semacam tes TOEFL-nya Bahasa Indonesia," jelas Abul.

Mungkin Belia juga banyak yang belum tahu soal UKBI ini ya? "UKBI ini diperlukan oleh warga asing yang akan bekerja atau sekolah di Indonesia. Sama kayak kita aja kalau mau kerja atau sekolah di Amerika or Inggris, butuh standar minimal nilai TOEFL," tambah Gira. Tuh, tambah satu pengetahuan lagi kan, kalau Bahasa Indonesia bukan sekadar bisa mengucapkan, tetapi juga harus tau tata bahasa atau grammar-nya juga.

Tujuan utama dari pemilihan Duta Bahasa ini, kata Abul dan Gira, sang Duta Bahasa ini akan menjadi trendsetter dalam penggunaan bahasa lokal, dalam hal ini bahasa Indonesia. "Sekarang banyak terjadi degradasi penggunaan bahasa Indonesia, kayak di iklan-iklan yang menggunakan bahasa asing. Jadi si Balai Bahasa ingin ada kampanye kecil-kecilan untuk melestarikan bahasa Indonesia. Bahasa asing, Inggris, dalam hal ini penting karena kita juga harus bisa menyerap informasi dari luar negeri, tetapi ada porsinya. Bahasa Sunda juga penting karena kita tetap harus melestarikan budaya, supaya enggak lupa sama asal usul kita. Bahasa Indonesia untuk menunjukkan identitas kita kepada orang luar," kata cewek kelahiran 13 September 1985 ini panjang lebar.

Banyak yang terkecoh juga kalau bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harus mengacu kepada ejaan yang disempurnakan alias EYD. Ternyata enggak gitu, lho. "Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu adalah bahasa yang dipakai sesuai dengan tempatnya atau tepat sasaran. Misalnya gini, kalau berbicara di depan forum yang formal, tentunya kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang formal juga, menggunakan EYD. Akan tetapi, kalau ada forum yang nonformal, sah-sah saja jika berbicara bahasa Indonesia yang enggak mengacu EYD," tutur Abul. Yang baik belum tentu benar, kan? Tapi kalau Belia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bahasa, enggak ada salahnya untuk main-main ke Balai Bahasa. Kalau di Bandung sih, di kawasan Jalan Sumbawa. Gimana? Mau ikutan? ***

tisha_belia@yahoo.com

Sumber : Pikiran Rakyat

Read more...

Imam : Memilih Bahasa Madura, Jawa dan Bima

0 komentar
Apa yang membuat Anda aktif di bidang bahasa?

Saya berkuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Negeri Malang. Selain bahasa Inggris, saya mendapatkan bahasa Arab di kampus UIN Malang melalui program khusus pembelajaran bahasa Arab (PKPBA) selama satu tahun. Program ini diwajibkan bagi semua mahasiswa dari semua jurusan dan fakultas.

Siapa yang pertama kali mengajak Anda aktif di bidang tersebut?

Pilihan pada bidang bahasa sebenarnya atas inisiatif pribadi dan keluarga. Sejak di bangku sekolah, saya sering terlibat komunikasi pada hampir semua lapisan masyarakat dengan berbagai karakter dan latar belakang, baik dalam wadah formal atau informal.

Bagaimana Anda akhirnya mendapat gelar Duta Bahasa?

Gelar Duta Bahasa Nasional sebenarnya bermula dari Praktik Kerja Lapangan Integratif yang diselenggarakan oleh Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Negeri Malang. Pada saat itu, saya dan 18 rekan saya, melakukan Praktik Kerja Lapangan Integratif di Balai Bahasa Surabaya, Jawa Timur. Pada saat yang sama pelaksanaan pemilihan Duta Bahasa tingkat Jawa Timur sedang digelar. Saat itu, pihak Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang menyeleksi dan menunjuk dua delegasi yang terdiri dari dua pasang untuk bersaing dengan utusan-utusan dari seluruh penjuru Jawa Timur. Saya dan Lathifah Hanum ditunjuk sebagai salah satu pasangan yang diutus dari UIN Malang. Sebab, dianggap memenuhi salah satu persyaratan dari peserta pemilihan Duta Bahasa tingkat Jawa Timur. Yaitu memiliki penguasaan terhadap bahasa daerah (Jawa Timur), bahasa Indonesia dan bahasa asing. Saat itu saya memilih bahasa Madura, Jawa dan Bima sebagai pilihan bahasa daerah yang saya kuasai.Setelah mengikuti pemilihan di tingkat Jawa Timur, kami berdua diutus sebagai delegasi Jawa Timur untuk mengikuti pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional. Tanpa diduga sebelumnya, Pemenang Pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional pada acara rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra 2007, pemenang juara I adalah pasangan dari Jawa Timur. Yaitu, saya sendiri dan Lathifah Hanum. Sedangkan juara II dan III dari Provinsi Bali dan Sumatra Utara.

Apakah ada pengaruh pada Anda secara pribadi dan sebagai warga Madura?

Pengaruh bagi pribadi saya sendiri selaku warga Madura adalah semakin tingginya keyakinan saya bahwa warga Madura memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk bisa meningkatkan kemampuan diri dan bersaing demi kemajuan bangsa. Hal itu sudah terbukti, dengan banyaknya tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Madura.Menurut Anda, bagaimana perkembangan bahasa Madura sendiri? Perkembangan bahasa Madura saat ini sangat memrihatinkan. Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan di beberapa Universitas di Malang pada tahun 2007, ternyata 8 dari 10 mahasiswa yang saya wawancarai, mengaku tidak menguasai bahasa Madura dengan baik dan benar, lebih-lebih apabila ditanya mengenai kemampuan berbahasa kramah (bahasa Madura yang memiliki tingkatan kesopanan yang tinggi). Salah satu tokoh nasional, Krisbiantoro pernah berkomentar pada acara Deseminasi RUU kebahasaan di Cisaruwa, Bogor (2007). Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian dari badan yang menangani penelitian bahasa di dunia, disebutkan bahwa 90 tahun mendatang diprediksi ada sekitar 25 persen bahasa di dunia ini lenyap. Itu karena hilangnya penutur asli dari bahasa tersebut. Itu bisa karena dua kemungkinan. Penuturnya yang lenyap (meninggal,Red.) atau tidak lagi mampu berbahasa daerah tersebut. Bukan tidak mungkin bahasa Madura ini akan musnah bila kita selaku warga Madura tidak berusaha untuk melestarikannya dengan cara berbahasa Madura dengan baik dan benar.

Apa yang sudah Anda siapkan untuk Kongres Bahasa Madura dalam waktu dekat?

Untuk memersiapkan Kongres Bahasa Madura pada bulan Desember 2008 ini, kita harus mampu mengantisipasi perkiraan yang kita khawatirkan bersama. Yaitu, lenyapnya bahasa Madura secara berangsur-angsur karena kurangnya rasa kepemilikan dari para penutur aslinya. Lebih-lebih setelah diresmikannya penggunaan Jembatan Surabaya-Madura, yang memungkinkan semua orang dari berbagai kalangan memasuki Madura. Sehingga, akan terjadi proses penyesuaian budaya dan atau penghilangan budaya Madura itu sendiri. Salah satu dari sekian cara yang bisa ditempuh adalah dengan membuat peraturan daerah yang mengatur penggunaan bahasa Madura secara baik dan benar. Serta, memberikan dukungan dan kawalan terhadap seluruh program Balai Bahasa Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Apakah selama ini komitmen untuk membakukan bahasa Madura masih kurang?

Dengan jujur, saya sering menjumpai warga Madura yang enggan dan malu berbicara menggunakan bahasa Madura dengan sesama warga Madura. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Kita harus mampu berbahasa dengan baik dan benar. Artinya harus sesuai dengan situasi yang ada, yaitu ketika kita berbicara dengan orang yang satu daerah atau satu suku dengan kita, maka kita menggunakan bahasa daerah, bila berbicara dengan orang yang berbeda suku atau daerah tentunya menggunakan bahasa Indonesia, dan bila berbicara dengan orang asing maka kita juga diharapkan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut atau bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional. Selain berbahasa dengan baik, kita juga harus berbahasa dengan benar. Ketika kita menggunakan ragam bahasa tulisan misalnya, maka kita harus menggunakan ejaan dan gramatikal yang benar.

Cara apa yang harus dilakukan agar bahasa Madura tetap menjadi tuan rumah di pulaunya?

Cara yang paling ampuh adalah dengan menanamkan kecintaan terhadap bahasa Madura, sebagai salah satu kekayaan budaya yang perlu dilestarikan untuk mengembangkan kebudayaan Nasional. (nra/ed)

Read more...

Pemenang Duta Bahasa Tiga Generasi

0 komentar

Ini adalah Pemenang I Pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional, yaitu (dari kiri ke kanan): Duta Bahasa 2006 (Sumatera Selatan), Duta Bahasa 2008 (DIY), dan Duta Bahasa 2007 (Jawa Timur)
Read more...

Setelah Lima Bahasa, Kini Bahasa Isyarat

0 komentar
TELAH menguasai lima bahasa asing, yakni Inggris, Jerman, Prancis, Jepang dan Mandarin ternyata belum memuaskan Achmad Chaidir. Lelaki kelahiran Samarinda, 13 Februari 1977 ini pun berniat menekuni bahasa isyarat untuk memudahkannya berkomunikasi dengan penyandang cacat.

Rupanya, bergabungnya Chaidir--sapaan akrabnya--di Badan

Pembina Orang Cacat (BPOC) Kaltim menguatkan niatnya untuk mempelajari bahasa isyarat. "Saya tertarik bergabung dengan BPOC karena bisa membantu kawan penyandang cacat. Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi? Meskipun tak ada korelasi dengan kesukaan saya terhadap bahasa asing, tetapi ada kepuasaan tersendiri untuk membantu," kata Chaidir, Kamis (24/7).

Bahasa isyarat penting bagi Chaidir, karana Duta Bahasa 2006 ini bergaul dengan penyandang cacat. Chaidir bahkan dipercaya menjadi Ketua Anggaran BPOC Kaltim dan kini sedang sibuk mepersiapkan atlet ikut Porcanas.

"Saya senang berdekatan dengan mereka. Memang awalnya sulit berkomunikasi dengan kawan yang tunagrahita dan tunanetra, tetapi saya belajar untuk berkomunikasi dan salah satunya melalui bahasa isyarat," kata Chaidir, yang menambahkan ketertarikannya untuk mempelajari huruf braille.


Lantas bagaimana membagi waktu untuk pekerjaan sosial di BPOC dan juga sebagai staf honor di Bappeda Kota Samarinda? "Saya di BPOC mulai sore hingga malam, jadi tidak mengganggu pekerjaan utama di Bappeda," ujarnya.

Chaidir yang juga telah mempelajari lima bahasa asing ini mengaku sangat menyukai bahasa Mandarin, terutama karena sangat menantang. "Saya memang lebih tertantang dengan bahasa Mandarin, karena ada empat nada yang berbeda jadi kalau salah sebut maka beda arti. Tapi kalau fasih, saya lebih fasih bahasa Inggris," ujarnya.

Namun, ia pun mengaku cukup kesulitan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Pasalnya, sulit mendapatkan kawan berkomunikasi. Meski begitu, Chaidir tak pernah lupa untuk mengembangkan kemampuannya dengan berlatih setiap hari, selama dua jam. "Supaya tidak lupa," ujarnya sambil tersenyum. (may)

biodata
Nama : Achmad Chaidir
TTL : Samarinda, 13 Februari 1977
Alamat : Jalan Mutiara No 2 RT 17 Samarinda
Pekerjaan : Staf Eko Sosbud Bappeda Kota Samarinda
Hobi : Belajar bahasa asing, membaca dan renang.

Read more...

PRAKOSO DAN HENY PEMENANG I PEMILIHAN DUTA BAHASA TINGKAT NASIONAL TAHUN 2006

0 komentar

Prakoso Bhairawa Putera (Penulis Muda / Mahasiswa FISIP - Univ. Sriwijaya) dan Heny Primasari (Jurnalis Berita Pagi)
Prakoso dan Heny (Perwakilan Sumatera Selatan) Berfoto Bersama Kepala Balai Bahasa Palembang

Foto Bersama Finalis Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2006
Persiapan Sebelum Presentasi Kelompok
Seluruh Pemenang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2006
Prakoso dan Heny (Perwakilan Sumatera Selatan) + Pendamping Sumatera Selatan Berfoto Bersama dengan Ibu Raisita Supit

Read more...

22 Juli 2009

Duta Bahasa Sulawesi Utara 2009

0 komentar
Berikut pemenang Pemilihan Duta Bahasa tingkat Propinsi Sulawesi Utara tahun 2009:

Pemenang pria:

I. Luky Slat, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Unima

II. Dedy Palamea, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unima

III. Christofel kindangen, mahasiswa Fakultas Sastra Unsrat

Pemenang wanita:

1. Tersiana Bawengan, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas De La Salle

II. Chirley Sarese, mahasiswa Fakultas Ekonomi

Universitas De La Salle

III. Gabby Wentuk, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado

Sumber : http://dutabahasasulawesiutara2009.blogspot.com/

Read more...

Aini Rahmania, Terpilih Sebagai Duta Bahasa Jawa Timur 2009

0 komentar

Bertambah satu lagi mahasiswi Teknik Informatika ITS Surabaya menorehkan sebuah prestasi yang membanggakan. Duta Bahasa Jawa Timur 2009, adalah prestasi yang diraih oleh mahasiswi yang memiliki nama lengkap Aini Rahmania K.F. Mahasiswi yang akan menginjak semester 5 ini, mewakili ITS Surabaya dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Jawa Timur 2009 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Surabaya. Perlu diketahui, ajang ini merupakan ajang tahunan untuk memilih putra putri terbaik dari Jawa Timur yang dinilai memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris yang baik, memiliki penampilan menarik,dan mampu berbicara di depan publik secara baik.

Peserta dalam kontes ini ialah pasangan duta bahasa dari masing-masing universitas di Jawa Timur. Dari para peserta tersebut, dipilih satu mahasiswa dan mahasiswi untuk menjadi Duta Bahasa Jawa Timur dan nantinya akan mewakili Propinsi Jawa Timur dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional.Dalam menjadi Duta Bahasa,setidaknya ada 3 tahap penilaian yang harus dilewati dara berusia 20 tahun ini. Tahapan penilaian tersebut antara lain yang pertama, tes Uji Kemampuan berbahasa Indonesia. Tes ini persis TOEFL tapi bahasa Indonesia, tes yang dilalui meliputi tes tulis(writing),mendegarkan (listening),membaca (reading), serta tes struktur dan gramatikal bahasa Indonesia. Yang kedua, tes wawancara bersama 3 juri, juri pertama menguji kemampuan berbahasa Indonesia, juri kedua menguji wawasan kebahasaan daerah, juri ketiga menguji wawasan kebahasaan bahasa asing. Dan tahap terakhir tes presentasi,tes ini layaknya miss Indonesia. Jadi, para kontestan mengambil pertanyaan dari undian, kemudian langsung menjawab pertanyaan tersebut di depan para juri dan audiens on the spot.

Setelah mengalami seleksi yang cukup ketat, terpilihlah Aini dari ITS Surabaya bersama Lukman dari Malang. Para duta yang terpilih berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 1.500.000,- dan juga sudah mulai aktif dengan kegiatan kebahasaan, seminar-seminar beserta kongres kebahasaan, dan tak kalah pentingnya yaitu persiapan menuju ajang Duta Bahasa Indonesia di tingkat nasional.

Kami, Himpunan Mahasiswa Teknik Computer - Informatika ITS Surabaya mengucapkan Selamat atas terpilihnya Aini Rahmania K.F. (C-17) sebagai Duta Bahasa Jawa Timur 2009.

Sumber : www.hmtc-its.org, 2 Juli 2009

Read more...

Febrianto dan Patrisia, Duta Bahasa Provinsi Jambi 2009

0 komentar

KOTA JAMBI - Kantor Bahasa provinsi Jambi menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Jambi, acara yang bertujuan untuk membangkitkan minat generasi muda di Jambi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menambah wawasan generasi muda tentang bahasa Indoensia.

Juga untuk mencari tunas muda yang mampu berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan berbahasa asing, menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia, dan menjadikan duta terpilih sebagai ikon yang dapat mempanguruhi lingkungannya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi yang diwakili Koordinator TU Yarmalus SPd menyampaikan bahwa Duta terpilih Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 9 – 11 Juni diikuti 74 peserta.

Adapun Dewan Juri ajang pemilihan ini adalah Dr Sudayono dari FKIP Universitas Jambi (Unja)), Drs Junaidi T Noor yang merupakan Budayawan Jambi, dan Dra Ermitati MHum seorang Peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi.

Gustia Mira SPd. Ketua panitia penyelenggara mengungkapkan, proses seleksi sudah berlangsung dari tanggal 28 April – 15 Mei 2009 lalu.

Dari proses seleksi tersebut maka terpilihlah sepuluh finalis Duta Bahasa Putra dan Putri dan telah mengikuti proses seleksi selanjutnya yang berlangsung pada tanggal 9—11 Juni 2009 di Kantor Bahasa Prov. Jambi. Tahapan seleksi penilaian duta bahasa provinsi Jambi ini akhirnya dewan Juri memutuskan dan menetapkan dua duta bahasa terpiliha putra dan putri.

Duta terpilih tersebut adalah Dedi Febrianto dan Patrisia Merly sebagai juara pertama putra dan putri. Sementara itu Afif Rofii dan Vera Andriani juara kedua dan Asas Muttaqin serta Selvia Liza Asni juara ketiganya. (cal)

Sumber : Jambi Online, 22 Juli 2009

Read more...

David dan Nurul Duta Bahasa Kaltim 2009

0 komentar

Wakili Kaltim ke Tingkat Nasional

SETELAH melewati serangkaian seleksi yang cukup ketat, akhirnya David Windra, Juara 1 Putra dan Nurul Darmayanti, Juara 1 Putri dinobatkan sebagai Duta Bahasa Kaltim 2009. Pemilihan Duta Bahasa ini digelar Kantor Bahasa Kaltim, Kamis (25/6) kemarin.

David, pegawai Bank CIMB Niaga dan Nurul, mahasiswa Universitas Mulawarman ini dinilai memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Baik untuk Bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Ditambah dengan wawasan kebahasaan dan pengetahuan yang cukup luas.

"Dari segi persentasi dan nilai UKBI (Uji Kemahiran Berbhasa Indonesia), David dan Nurul dianggap paling unggul, cerdas dan memiliki kemampuan lebih dari kriteria yang telah ditetapkan. Tidak hanya kemampuan bahasa asing, namun juga kemampuan bahasa Indonesia yang baik," jelas Ketua Panitia Duta Bahasa Kantor Bahasa, Abd Rahman.

David dan Nurul akan mewakili Kaltim untuk mengikuti Pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional di Jakarta, pada Oktober mendatang. Menurut Rahman, Duta Bahasa ini diikuti 14 peserta yaitu 6 putra dan 9 putri. Syaratnya ada putra dan putri yang berusia 18-25 tahun.

Sebelum terpilih menjadi Duta Bahasa, peserta harus meelwati beberapa tahapan seleksi. Yaitu tes UKBI dan yang terakhir yaitu persentase makalah yang dibuat oleh peserta tentang Kebahasaan dan Kesastraan.

"Penilaian dilihat dari pengetahuan umum, penampilan kemampuan persentase, pengetahuan bahasa dan sastra Indonesia dan pengetahuan dan sastra daerah. Dan yang terakhir adalah kemampuan berbahasa asing. Penilaian ini akan digabung dengan tes UKBI," tambah Rahman.

Menurut Koordinator Bidang Pengembangan Kantor Bahasa Kaltim ini, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun untuk memilih Duta Bahasa Kaltim yang akan mewakili Kaltim ke tingkat nasional. Dengan tujuan untuk meningkatkan minat generasi muda untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menambah generasi muda tentang Bahasa Indonesia. (ici)

Sumber : Samarinda Pos, 26 Juni 2009

Read more...

Edi S. dan Rahmadianti Duta Bahasa Lampung 2009

1 komentar

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Edi Susila dan Rahmadianti terpilih sebagai duta bahasa tahun 2009 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa yang digelar di Aula Kantor Bahasa Pemprov Lampung, Rabu (24-6).

Edi yang berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Lampung itu mengantongi nilai 1.055, mengungguli Kristian Adiputra yang hanya memperoleh nilai 993 sekaligus menduduki peringkat kedua. Sementara peringkat ketiga diraih oleh Septian Trisilo Prabowo yang memperoleh nilai 990.

Untuk kategori putri, juara pertama diraih oleh Rahmadianti Gazadinda wakil dari SMAN 2 Bandar Lampung dengan total nilai 1.025. Juara kedua diraih oleh Nia Selfia yang mendapai nilai 1.014 dan di peringkat ketiga diraih oleh Yuni Anggraini 982.

Dewan juri dalam lomba ini antara lain Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Agus Sri Danardana, dosen FKIP Universitas Lampung Farida Ariani, Fajar Isnawan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung , dan Amirudin Sormin, wartawan Lampung Post.

Fajar Isnawan berharap agar para finalis mampu mengharumkan Provinsi Lampung baik di kancah nasional dan internasional. "Ke depan ajang pemilihan seperti ini dapat diadakan di tempat keramaian seperti mal supaya gaungnya lebih terasa," ujarnya.

Para peserta yang berjumlah 30 orang dan berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa ini diwajibkan menjawab pertanyaan dari dewan juri tentang kebahasaan dan pengetahuan umum.

Tresia peserta dari FKIP Unila berharap kepada Pemprov Lampung untuk mengeksplorasi objek-objek wisata di Provinsi Lampung seperti Taman Wisata Batu Putu. "Hal itu perlu dilakukan supaya turis tertarik dan lebih banyak lagi yang datang ke Provinsi Lampung," kata dia.

Sumber : Lampung Pos, 25 Juni 2009

Read more...