blog ini merupakan blog duta bahasa, berisi segala informasi mengenai pemilihan duta bahasa, berita-berita seputar para duta, kegiatan para duta dan pemikiran-pemikirannya.
 
Tampilkan postingan dengan label Para Duta Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Para Duta Bahasa. Tampilkan semua postingan

13 November 2010

Pemenang Pemilihan Duta Bahasa 2010

0 komentar
Setelah melewati tahap penjurian final di Jakarta, maka berdasarkan penilaian ditetapkan nama-nama berikut sebagai Pemenang Pemilihan Duta Bahasa (Nasional) 2010.

Pemenang I :
Made Dwi Setyadhi M & Ni Nym. Krisna Kumalayani (BALI)

Pemenang II :
Bryan Gunawan & Linda Dwi Putri J (DKI JAKARTA)

Pemenang III:
Greget Kalla Buana & Vienna Paramitha A (JAWA TENGAH)

Pemenang Harapan I :
Loveandiyo M.R & Intan Permata Sari (SUMATERA BARAT)

Pemenang Harapan II :
Edward Tosio Fransetia S & Aminah Rizki Lubis (SUMATERA UTARA)

Pemenang Harapan III :
Jerianto Bolang & Fergie S. Mahaganti (SULAWESI UTARA)

Selamat kepada seluruh Pemenang, semoga mampu memberikan pencerahan dalam perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Read more...

13 Oktober 2010

Helena: Duta Bahasa Indonesia Sulawesi Tenggara

0 komentar
KENDARINEWS: Halena Wulan Karlina adala salah seorang yang mewakili Sulawesi Tenggara dalam pertukaran pemuda antar Negara Indonesia dengan Australia tahun 2009-2010.

Wanita kelahiran Kendari, 28 September 1987 ini, sebelumnya meraih beberapa penghargaan dari kompetisi, diantaranya juara satu lomba pidato bahasa inggris tingkat Sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1999 dan Sekolah menengah atas (SMA) se Kota Kendari tahun 2002. selain itu ia juga pernah juara satu dalam lomba bahasa inggris se-Kota Kendari tingkat mahasiswa dan skrip teater sekolah tahun 2004.

Anak dari Halim Pagala, S.Sos dan Nurhaena Abdullah merupakan tipe wanita yang tidak memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap sesuatu yang dilakoninya. Dari berbagai event dan festival yang diikutinya, salah satu alasannya hanya ingin mencari pengalaman, mengasah mental, dan menambah wawasan.

Namun tak bisa dipungkiri wanita bersuku bugis ini dianugrahi intelegensi dan kemampuan yang cukup tinggi, terbukti dari tahapan tes yang dilewatinya dari 100 peserta Australian Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) se-Sultra, ia berhasil menduduki posisi pertama sekaligus perwakilan Sultra dalam pertukaran pemuda tahun lalu itu.

Setelah lolos seleksi ia langsung dikirim ke Jakarta untuk bersama-sama mengikuti pelatihan dengan 18 putra-putri perwakilan masing-masing provinsi di Indonesia. Kemudian mereka tersebut langsung diberangkatkan ke Australia, kurang lebih selama dua bulan mereka menetap di Australia di Kota Perth dan Margaret.

Di Margaret, ia magang di Montesssory Primary School dengan mengajar Bahasa Indonesia. Selain magang mereka juga menampilkan pertunjukan kebudayaan, 18 orang pemuda Indonesia membawakan tari Saman dan Rapai Geleng dihadapan 18 pumuda Australia yang nantinya akan bertandang ke Indonesia selama dua bulan dan aktivitas yang mereka lakoni sama dengan pemuda Indonesia.

Anak pertama dari empat bersaudara Helmin, Hasrat dan Hutaman ini, kembali mendulang prestasi pada 7 Oktober 2010. Ia lolos dalam ajang pemilihan duta bahasa Indonesia perwakilan Sultra setelah melewati serangkain pelatihan dan tes yang diselenggarakan Kantor Bahasa Kendari. Dan akhirnya ia bersama rekannya Precelly Aljancarios Atiri yang juga juara satu putra asal Kabupaten Muna akan berangkat ke Jakarta 22 oktober 2010 mendatang.

Helena mengakui dalam mengikuti pemilihan duta bahasa dirinya tidak mempunyai persiapan khusus, semuanya serba mendadak, terlebih untuk membuat makalah tentang “Pergeseran Bahasa Indonesia di Era Globalisasi” yang hanya membutuhkan waktu semalam untuk dapat menyelesaikannya.

Pengalaman yang didapatnya ketika menjadi pertukaran pemuda dengan duta bahasa Sultra menurutnya tidak jauh berbeda, keduanya memiliki sejuta pengetahuan dan pengalaman namun menjadi duta Bahasa Indonesia Sultra jauh lebih menantang suasana berkompetisinya, terlebih jika ditingkat Nasional yang waktunya tinggal sebentar lagi.

Tak banyak harapan yang ucapkannya diakhiri wawancara, ia hanya mengatakan akan memberikan yang terbaik untuk Sulawesi Tenggara, menang dengan tidak nanti tergantung yang Kuasa. Maju terus Helena, moga sukses membawa nama Sultra melaju di tingkat nasional.

Sumber : Kendari News, 11 Oktober 2010
Read more...

Dody-Pratiwi Duta Bahasa Sumsel 2010

1 komentar

Setelah melalui proses penjurian yang ketat, Dody Pernandis dan Pratiwi Eka Putri akhirnya terpilih menjadi duta bahasa Provinsi Sumsel 2010. Dody merupakan mahasiswa Pariwisata Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) angkatan 2007 mengumpulkan skor 495. Sedangkan Pratiwi, mahasiswi FISIP Unsri 2007 mengumpulkan skor 475.

Ketua pelaksana Vita Nirmala mengatakan ajang pemilihan duta bahasa ini adalah untuk menyukseskan Bulan Bahasa yang jatuh setiap Oktober. “Tahun ini kita mengambil tema pembentukan karakter generasi muda bangsa melalui peningkatan kualitas bahasa dan sastra Indonesia dan daerah,” ujarnya.

Katanya, peserta yang terpilih sebagai Duta Bahasa nantinya akan dikirim ke Jakarta guna mengikuti ajang serupa di tingkat nasional. Selain itu, wakil I duta bahasa Provinsi Sumsel 2010 M Fandagri Hartanto mahasiswa Ilmu Komputer (Ilkom) Unsri angkatan 2007 dengan skor penilaian 451 dan Mardiana (FKM Unsri 2007) dengan skor penilaian 453.

Tampak hadir Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Drs B Trisman M Hum, dan ketiga dewan juri Dr Indawan Syahri MPd, Nofita Anggraini MSi dan Dra Hj Zahra Alwi MPd.(mg21)
Read more...

23 Juli 2009

ABUL & GIRA, "TRENDSETTER" MUDA BAHASA INDONESIA

0 komentar

SEBERAPA penting peran bahasa untuk Belia? Semuanya pasti bilang sangat penting, kan? Tanpa bahasa, manusia enggak mungkin bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Walau di Indonesia punya banyak bahasa daerah, tetap saja, yang resmi dipakai untuk berkomunikasi adalah bahasa Indonesia. Supaya penggunaan bahasa Indonesia lebih meluas lagi, Jawa Barat ternyata punya sepasang Duta Bahasa, lho! Pengen tau tugas mereka seperti apa? Simak obrolan belia dengan Gira Mayang Septantia dan Ahmad Hasbullah, Duta Bahasa Jawa Barat 2008 di bawah ini!

Sabtu (10/10) pagi menjelang siang di sebuah gerai donat, belia ngobrol banyak sama Gira dan Abul. Menurut mereka, gelaran pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat ini belum banyak yang tau. "Acara ini emang baru berlangsung selama tiga tahun. Belum banyak yang tahu karena sosialisasi lewat media kurang banyak dan waktunya pendek," kata Gira. Pemilihan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa ini, tadinya memang hanya ditujukan untuk mereka yang bener-bener berminat pada bidang ini. "Saya sendiri taunya udah dari tahun lalu karena diberi tahu temen yang anak Sastra. Tapi mulai tahun ini, lebih dibuka ke umum karena nantinya di pemilihan yang nasional, banyak pertanyaan mengenai wawasan umum," jelas cewek yang sedang mengambil magister kenotariatan di Unpad ini.

Kemudahan untuk mengikuti ajang ini juga didapat oleh Abul. "Kebetulan saya dan Gira juga ikutan pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat. Jadinya info tentang pemilihan ini didapat dari sana," kata cowok asal Garut ini. Menurut mereka berdua, seleksi yang harus mereka jalani selama lomba termasuk berat. "Ada tes menulis dalam tiga bahasa: Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Sunda, interview, presentasinya, sama ada juga Uji Kompentensi Bahasa Indonesia (UKBI). Yang terakhir ini adalah semacam tes TOEFL-nya Bahasa Indonesia," jelas Abul.

Mungkin Belia juga banyak yang belum tahu soal UKBI ini ya? "UKBI ini diperlukan oleh warga asing yang akan bekerja atau sekolah di Indonesia. Sama kayak kita aja kalau mau kerja atau sekolah di Amerika or Inggris, butuh standar minimal nilai TOEFL," tambah Gira. Tuh, tambah satu pengetahuan lagi kan, kalau Bahasa Indonesia bukan sekadar bisa mengucapkan, tetapi juga harus tau tata bahasa atau grammar-nya juga.

Tujuan utama dari pemilihan Duta Bahasa ini, kata Abul dan Gira, sang Duta Bahasa ini akan menjadi trendsetter dalam penggunaan bahasa lokal, dalam hal ini bahasa Indonesia. "Sekarang banyak terjadi degradasi penggunaan bahasa Indonesia, kayak di iklan-iklan yang menggunakan bahasa asing. Jadi si Balai Bahasa ingin ada kampanye kecil-kecilan untuk melestarikan bahasa Indonesia. Bahasa asing, Inggris, dalam hal ini penting karena kita juga harus bisa menyerap informasi dari luar negeri, tetapi ada porsinya. Bahasa Sunda juga penting karena kita tetap harus melestarikan budaya, supaya enggak lupa sama asal usul kita. Bahasa Indonesia untuk menunjukkan identitas kita kepada orang luar," kata cewek kelahiran 13 September 1985 ini panjang lebar.

Banyak yang terkecoh juga kalau bahasa Indonesia yang baik dan benar itu harus mengacu kepada ejaan yang disempurnakan alias EYD. Ternyata enggak gitu, lho. "Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu adalah bahasa yang dipakai sesuai dengan tempatnya atau tepat sasaran. Misalnya gini, kalau berbicara di depan forum yang formal, tentunya kita harus menggunakan bahasa Indonesia yang formal juga, menggunakan EYD. Akan tetapi, kalau ada forum yang nonformal, sah-sah saja jika berbicara bahasa Indonesia yang enggak mengacu EYD," tutur Abul. Yang baik belum tentu benar, kan? Tapi kalau Belia tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang bahasa, enggak ada salahnya untuk main-main ke Balai Bahasa. Kalau di Bandung sih, di kawasan Jalan Sumbawa. Gimana? Mau ikutan? ***

tisha_belia@yahoo.com

Sumber : Pikiran Rakyat

Read more...

Imam : Memilih Bahasa Madura, Jawa dan Bima

0 komentar
Apa yang membuat Anda aktif di bidang bahasa?

Saya berkuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Negeri Malang. Selain bahasa Inggris, saya mendapatkan bahasa Arab di kampus UIN Malang melalui program khusus pembelajaran bahasa Arab (PKPBA) selama satu tahun. Program ini diwajibkan bagi semua mahasiswa dari semua jurusan dan fakultas.

Siapa yang pertama kali mengajak Anda aktif di bidang tersebut?

Pilihan pada bidang bahasa sebenarnya atas inisiatif pribadi dan keluarga. Sejak di bangku sekolah, saya sering terlibat komunikasi pada hampir semua lapisan masyarakat dengan berbagai karakter dan latar belakang, baik dalam wadah formal atau informal.

Bagaimana Anda akhirnya mendapat gelar Duta Bahasa?

Gelar Duta Bahasa Nasional sebenarnya bermula dari Praktik Kerja Lapangan Integratif yang diselenggarakan oleh Fakultas Humaniora dan Budaya Universitas Islam Negeri Malang. Pada saat itu, saya dan 18 rekan saya, melakukan Praktik Kerja Lapangan Integratif di Balai Bahasa Surabaya, Jawa Timur. Pada saat yang sama pelaksanaan pemilihan Duta Bahasa tingkat Jawa Timur sedang digelar. Saat itu, pihak Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang menyeleksi dan menunjuk dua delegasi yang terdiri dari dua pasang untuk bersaing dengan utusan-utusan dari seluruh penjuru Jawa Timur. Saya dan Lathifah Hanum ditunjuk sebagai salah satu pasangan yang diutus dari UIN Malang. Sebab, dianggap memenuhi salah satu persyaratan dari peserta pemilihan Duta Bahasa tingkat Jawa Timur. Yaitu memiliki penguasaan terhadap bahasa daerah (Jawa Timur), bahasa Indonesia dan bahasa asing. Saat itu saya memilih bahasa Madura, Jawa dan Bima sebagai pilihan bahasa daerah yang saya kuasai.Setelah mengikuti pemilihan di tingkat Jawa Timur, kami berdua diutus sebagai delegasi Jawa Timur untuk mengikuti pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional. Tanpa diduga sebelumnya, Pemenang Pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional pada acara rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra 2007, pemenang juara I adalah pasangan dari Jawa Timur. Yaitu, saya sendiri dan Lathifah Hanum. Sedangkan juara II dan III dari Provinsi Bali dan Sumatra Utara.

Apakah ada pengaruh pada Anda secara pribadi dan sebagai warga Madura?

Pengaruh bagi pribadi saya sendiri selaku warga Madura adalah semakin tingginya keyakinan saya bahwa warga Madura memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk bisa meningkatkan kemampuan diri dan bersaing demi kemajuan bangsa. Hal itu sudah terbukti, dengan banyaknya tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Madura.Menurut Anda, bagaimana perkembangan bahasa Madura sendiri? Perkembangan bahasa Madura saat ini sangat memrihatinkan. Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan di beberapa Universitas di Malang pada tahun 2007, ternyata 8 dari 10 mahasiswa yang saya wawancarai, mengaku tidak menguasai bahasa Madura dengan baik dan benar, lebih-lebih apabila ditanya mengenai kemampuan berbahasa kramah (bahasa Madura yang memiliki tingkatan kesopanan yang tinggi). Salah satu tokoh nasional, Krisbiantoro pernah berkomentar pada acara Deseminasi RUU kebahasaan di Cisaruwa, Bogor (2007). Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian dari badan yang menangani penelitian bahasa di dunia, disebutkan bahwa 90 tahun mendatang diprediksi ada sekitar 25 persen bahasa di dunia ini lenyap. Itu karena hilangnya penutur asli dari bahasa tersebut. Itu bisa karena dua kemungkinan. Penuturnya yang lenyap (meninggal,Red.) atau tidak lagi mampu berbahasa daerah tersebut. Bukan tidak mungkin bahasa Madura ini akan musnah bila kita selaku warga Madura tidak berusaha untuk melestarikannya dengan cara berbahasa Madura dengan baik dan benar.

Apa yang sudah Anda siapkan untuk Kongres Bahasa Madura dalam waktu dekat?

Untuk memersiapkan Kongres Bahasa Madura pada bulan Desember 2008 ini, kita harus mampu mengantisipasi perkiraan yang kita khawatirkan bersama. Yaitu, lenyapnya bahasa Madura secara berangsur-angsur karena kurangnya rasa kepemilikan dari para penutur aslinya. Lebih-lebih setelah diresmikannya penggunaan Jembatan Surabaya-Madura, yang memungkinkan semua orang dari berbagai kalangan memasuki Madura. Sehingga, akan terjadi proses penyesuaian budaya dan atau penghilangan budaya Madura itu sendiri. Salah satu dari sekian cara yang bisa ditempuh adalah dengan membuat peraturan daerah yang mengatur penggunaan bahasa Madura secara baik dan benar. Serta, memberikan dukungan dan kawalan terhadap seluruh program Balai Bahasa Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Apakah selama ini komitmen untuk membakukan bahasa Madura masih kurang?

Dengan jujur, saya sering menjumpai warga Madura yang enggan dan malu berbicara menggunakan bahasa Madura dengan sesama warga Madura. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Kita harus mampu berbahasa dengan baik dan benar. Artinya harus sesuai dengan situasi yang ada, yaitu ketika kita berbicara dengan orang yang satu daerah atau satu suku dengan kita, maka kita menggunakan bahasa daerah, bila berbicara dengan orang yang berbeda suku atau daerah tentunya menggunakan bahasa Indonesia, dan bila berbicara dengan orang asing maka kita juga diharapkan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut atau bahasa Inggris, sebagai bahasa internasional. Selain berbahasa dengan baik, kita juga harus berbahasa dengan benar. Ketika kita menggunakan ragam bahasa tulisan misalnya, maka kita harus menggunakan ejaan dan gramatikal yang benar.

Cara apa yang harus dilakukan agar bahasa Madura tetap menjadi tuan rumah di pulaunya?

Cara yang paling ampuh adalah dengan menanamkan kecintaan terhadap bahasa Madura, sebagai salah satu kekayaan budaya yang perlu dilestarikan untuk mengembangkan kebudayaan Nasional. (nra/ed)

Read more...

Setelah Lima Bahasa, Kini Bahasa Isyarat

0 komentar
TELAH menguasai lima bahasa asing, yakni Inggris, Jerman, Prancis, Jepang dan Mandarin ternyata belum memuaskan Achmad Chaidir. Lelaki kelahiran Samarinda, 13 Februari 1977 ini pun berniat menekuni bahasa isyarat untuk memudahkannya berkomunikasi dengan penyandang cacat.

Rupanya, bergabungnya Chaidir--sapaan akrabnya--di Badan

Pembina Orang Cacat (BPOC) Kaltim menguatkan niatnya untuk mempelajari bahasa isyarat. "Saya tertarik bergabung dengan BPOC karena bisa membantu kawan penyandang cacat. Kalau bukan kita yang membantu, siapa lagi? Meskipun tak ada korelasi dengan kesukaan saya terhadap bahasa asing, tetapi ada kepuasaan tersendiri untuk membantu," kata Chaidir, Kamis (24/7).

Bahasa isyarat penting bagi Chaidir, karana Duta Bahasa 2006 ini bergaul dengan penyandang cacat. Chaidir bahkan dipercaya menjadi Ketua Anggaran BPOC Kaltim dan kini sedang sibuk mepersiapkan atlet ikut Porcanas.

"Saya senang berdekatan dengan mereka. Memang awalnya sulit berkomunikasi dengan kawan yang tunagrahita dan tunanetra, tetapi saya belajar untuk berkomunikasi dan salah satunya melalui bahasa isyarat," kata Chaidir, yang menambahkan ketertarikannya untuk mempelajari huruf braille.


Lantas bagaimana membagi waktu untuk pekerjaan sosial di BPOC dan juga sebagai staf honor di Bappeda Kota Samarinda? "Saya di BPOC mulai sore hingga malam, jadi tidak mengganggu pekerjaan utama di Bappeda," ujarnya.

Chaidir yang juga telah mempelajari lima bahasa asing ini mengaku sangat menyukai bahasa Mandarin, terutama karena sangat menantang. "Saya memang lebih tertantang dengan bahasa Mandarin, karena ada empat nada yang berbeda jadi kalau salah sebut maka beda arti. Tapi kalau fasih, saya lebih fasih bahasa Inggris," ujarnya.

Namun, ia pun mengaku cukup kesulitan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya. Pasalnya, sulit mendapatkan kawan berkomunikasi. Meski begitu, Chaidir tak pernah lupa untuk mengembangkan kemampuannya dengan berlatih setiap hari, selama dua jam. "Supaya tidak lupa," ujarnya sambil tersenyum. (may)

biodata
Nama : Achmad Chaidir
TTL : Samarinda, 13 Februari 1977
Alamat : Jalan Mutiara No 2 RT 17 Samarinda
Pekerjaan : Staf Eko Sosbud Bappeda Kota Samarinda
Hobi : Belajar bahasa asing, membaca dan renang.

Read more...