blog ini merupakan blog duta bahasa, berisi segala informasi mengenai pemilihan duta bahasa, berita-berita seputar para duta, kegiatan para duta dan pemikiran-pemikirannya.
 
Tampilkan postingan dengan label Profil Duta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Duta. Tampilkan semua postingan

21 Agustus 2012

PUTRI ARIMBI, SANG PENULIS YANG MENJADI DUTA BAHASA

0 komentar

Oleh: Tim POTRET

Anda sebagai siswa atau mahasiswa? Bila ya, maka anda harus kreatif dan punya banyak prestasi donk. Hidup berprestasi adalah sebuah wujud anda sebagai orang yang kreatifdan innovative. Prestasi tentu saja tidak didapatkan secara instant, tetapi harus selalu ada upaya untuk menciptkan prestasi itu. Mungkin anda mengenal Putri Arimbi, mahasiswa Program Sarjana (S1) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sejak duduk dibangku SMA, Putri telah banyak meraih prestasi, hingga akhirnya ditahun 2011 Putri menjadi Duta Bahasa Provinsi Aceh.

Keikut sertaannya dalam kontes pemilihan Duta Bahasa yang diikuti oleh pemenang olimpiade Biologi Tingkat SMA/MA se-Kota Banda Aceh (2008) ini bermula dari saran teman-temannya yang menganggap dirinya mempunyai kapasitas untuk menjadi Duta Bahasa. Setelah mendaftarkan diri menjadi peserta, Putri bersaing dengan 32 peserta lainnya dan mengikuti tes Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), sebuah test seperti Toefl namun dalam bentuk bahasa Indonesia. Hasil seleksi tersebut menyisakan 10 peseta cewek dan cowok, Putri termasuk salah satu di antara 10 peserta tersebut dan menduduki posisi ke-4. Selanjutnya Putri dipasangkan dengan M. Nasir, mahasiswa FKIP Fisika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Mereka harus membuat makalah dan mempersentasikannya. Dari hasil tes makalah tersebut terpilih 5 pasang peserta. Alhamdulillah Putri masuk ke 5 besar cewek yang tepilih. Pada tahap ini Putri dipasangkan dengan M. Fadhil Ahyari.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Putri terpilih menjadi pemenang pertama dan bersama M. Fadhil, Putri diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti karantina dalam rangka pemilihan Duta Bahasa Nasional. Putri dan Fadhil tampil sebagai perwakilan Aceh. Dalam masa karantina selama 5 hari. Mereka benar-benar digembleng dengan beberapa kegiatan dan pemberian materi dari Saiful Fatan, Happy Salma, dan Putu Wijaya.

Selanjutnya mereka mengikuti tes UKBI, namun level soalnya jauh lebih sulit. Kemudian penilaian pada saat persentasi. Pada saat tes persentasi kami mengangkat tema tentang pembentukan forum bahasa di Provinsi Aceh. Kegiatan lain pada saat karantina, para duta bahasa (54 orang) ikut meramaikan peluncuran film dari Dinas Pendidikan. Filmnya tentang Gerakan Cinta Bahasa. Acara puncaknya itu berlokasi di Taman Mini dan kami menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerah dan setiap peserta mendapatkan pertanyaan masing-masing. Banyak dari mereka yang sangat apresiasi terhadap Aceh. Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada kami adalah tentang Syariat Islam di Aceh dan tsunami. Putri merasa tertantang untuk lebih menjual nama Aceh dalam aura yang positif, karena sebagian mereka yang sangat mengkritisi Syariat Islam di Aceh.

Persoalan bahasa memang merupakan persoalan individu, namun akan menjadi permasalahan sosial di saat berinteraksi dengan orang lain. Putri menyatakan bahwa sangat disayangkan disaat orang yang berpendidikan tidak bisa berbahasa dengan baik dan benar. Menurutnya hal ini sangat dipengaruhi oleh teknologi dan juga budaya disaat sudah banyak bahasa gaul dan alay yang terserap dalam percakapan anak-anak muda saat ini. Lebih memprihatinkan lagi, jika kondisi ini terus berlanjut. Karena dampaknya akan mereka rasakan pada saat kuliah, pada saat membuat karya ilmiah, atau skripsi dan pada saat kondisi dimana mereka dituntut formal.

Dalam mempromosikan berbahasa yang baik dan benar, “Putri menyarankan untuk semua warga Indonesia memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, selanjutnya keluarga dan teman-teman dekat. Walaupun ada sebagian yang menganggap ini tidak penting”. Ungkap anak pasangan Syarif Siregar dan Khairani, S. Pd yang juga hobi menulis. Putri sering memenangkan perlombaan menulis seperti puisi, cerpen, dan artikel. Salah satu artikelnya pernah dimuat dalam buku antologi artikel “Santeut, Khotbah Jender Pelajar Aceh” penerbit Aneuk Mulieng Publishing (2007).

Dalam menkritisi tulisannya Putri mengunggkapkan bahwa dia sangat terbuka. “Karena jika ada yang mengkritik, tandanya tulisan kita dibaca. Menulis itu tidak harus selalu bagus, yang penting kita bisa mengeluarkan gagasan kita yang bisa dibaca orang. Lalu, orang bisa memberikan masukan. Bagi Putri, sangat mudah menjadi penulis. Tips jadi penulis itu juga sangat sederhana. Ya, apa yang ada dipikiran kita, kita tuliskan saja. Jangan pikirkan benar salahnya, karena menulis itu adalah mengeluarkan ide dan gagasan kita. Kita harus sering-sering sharing dengan penulis yang lain agar kita bisa tahu dimana kekurangan dari tulisan kita.

Yuk para pembaca majalah POTRET, jangan enggan untuk menulis. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menulis, misalnya kita dapat mempengaruhi orang lain, bisa berbagi cerita, berbagi ide, dan kita juga bisa mengajak orang lain berbuat lebih melalui tulisan.” Itulah kutipan pesan-pesan Putri untuk pembaca POTRET.

Sejalan dengan POTRET edisi 54 yang mengangkat tema eksploitasi seksual anak, Putri merasa sangat prihatin melihat fenomena dan realitas kehidupan seksual anak saat ini. Menurut Putri, “Ketika melihat posisi Aceh sebagai negeri Syariat Islam, adanya tindakan eksploitasi seksual anak yang diperdagangkan di negeri syariat ini menimbulkan tanda Tanya besar di benak kita. Mengapa itu terjadi di Aceh? Lebih lanjut, ujar Putri, seharusnya Aceh yang kita kenal sebagai daerah yang ketat dalam beragama, namun bias ada praktek ESA. Betapa hati kita terenyuh dan teriris, ketika membaca berita di surat kabar daerah ini, ada dua gadis Aceh yang masih di bawah umur yang dijual ke Singapura. Sangat tragis bukan? Seharusnya, ini tidak terjadi di Aceh. Kita harus menghentikan aksi ini.

Ketika ditanya, mengapa kasus-kasus eksploitasi seksual anak, seperti pelacuran anak, penjualan anak untuk seksual, pernikahan dini, pornografi anak dan wisata seksual terjadi, Putri memaparkan bahwa karena banyak faktor. Misalnya, karena pemahaman masyarakat kita yang mengamini pernikahan dini sebagai sebuah solusi bagi kaum perempuan dan juga remaja agar tidak terlanjur dalam seks bebas. Ada juga karena rendahnya pemahaman kita terhadap bahaya eksploitasi seksual anak dan hak anak. Hal yang lebih parah lagi adalah karena adanya oknum trafficker yang memanfaatkan keadaan. Mereka memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan untuk memperdaya anak-anak dengan berbagai iming-iming seperti mendapatkan pekerjaan, lalu dibawa ke kota dan kemudian dijual untuk dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK).

Jadi, ketika banyak masyarakat yang masih berada di bawah kesejahteraan yang pendidikannya rendah yang menginginkan ekonomi yang lebih, maka ini dijadikan peluang bisnis oleh mereka yang tidak berperikemanusiaan itu. Kita sering mengatakan keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi berlanjutnya praktek eksploitasi seksual anak ini, lanjut Putri. Ya, solusinya kita harus peduli dan kritis melihat kondisi disekitar kita. Kita harus mampu membaca fenomena dari para pelaku trafficking itu agar kita dan anak-anak perempuan yang kini terkontaminasi oleh budaya konsumtif, tidak dijakan korban lagi. Selain itu,agar kita terbentengi dari hal-hal yang bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang buruk”, masyarakat, media dan pemerintah harus saling bahu membahu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat untuk menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang menghadang. Selayaknya kita mengajak masyarakat kita peduli mengatasi masalah ESA di tempat masing-masing.
Read more...

FADHIL: DARI DUTA BAHASA KE DUNIA MODELLING

0 komentar

MUHAMMAD Fadhil Achyari. Di kalangan anak muda Banda Aceh nama ini sudah tidak asing lagi. Wajar saja, predikat sebagai Duta Bahasa yang diraihnya pada tahun 2011 lalu telah melambungkan namanya.

Sebelumnya di tahun 2010, Fadhil juga berhasil menyandang gelar Duta Pariwisata Banda Aceh. “Untuk Duta, sudah dua kali. Duta pariwisata dan Duta Bahasa. Alhamdulillah sekali. Saya merasa senang sudah dapat menjadi banggaan  bagi orang-orang disekitar saya,” ujar Fadhil kepada The Atjeh Post, Selasa, 3 Juli 2012 di Tower CafĂ©.


Karena keranjingan berjalan di atas cat walk, Fadhil pun mulai menekuni dunia modeling. Hobby barunya ini menurut Fadhil bukan sekedar untuk menampilkan daya tarik semata, tetapi juga sebagai media untuk mengaplikasikan komunikasi yang baik bagi masyarakat.

“Menjadi model itu bukan hanya sekedar menjadi model saja, tapi juga menjadi icon bagi masyarakat umum,” ujar lelaki kelahiran 22 April 1994 ini.

Kepada The Atjeh Post, Fadhil mengatakan jika predikat Duta Bahasa yang dicapainya pada tahun 2011 lalu merupakan awal karirnya di dunia modeling. Hingga sekarang ia sudah sering memperagakan busana dari para desainer ternama di Indonesia.

Ia berharap dengan berjalannya program Duta Mahasiswa yang digagas oleh Balai Bahasa Banda Aceh tersebut, dapat meningkatkan minat masyarakat dalam bidang bahasa dan tidak menganggap remeh bahasa ibu.

Bahkan, menurutnya Bahasa Indonesia lebih sulit ketimbang Bahasa Inggris yang sudah menjadi keharusan kurikulum di sekolah.

“Biasanya orang meremehkan Bahasa Indonesia atau bahasa ibu, sebenarnya itu lebih sulit daripada Bahasa Inggris atau bahasa kebangsaan orang yang harus dikuasai oleh siapa pun dan sudah menjadi kewajiban bagi kurikulum sekolah pada umumnya,” Ujar Fadhil.[]

Sumber: http://atjehpost.com/read/2012/07/05/13889/47/6/Fadhil-dari-Duta-Bahasa-ke-Dunia-Modelling

Read more...

04 April 2012

RIME, BELAJAR DENGAN JADI DUTA BAHASA

0 komentar
Anarima Destiani Savitri
ANARIMA Destiani Savitri, namanya dikenal di beberapa kalangan akademisi, komunitas, maupun dunia entertainment. Sosok gadis berusia 24 tahun ini memang tipikal orang yang menyukai kompetisi seperti ajang pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2007 yang menjadikannya sebagai juara pertama.

Keinginannya untuk menjadi seorang duta bahasa dilatarbelakangi saat dia dihadang kesulitan menyelesaikan soal-soal ujian bahasa Indonesia ketika mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) tahun 2007 lalu. Rime, sapaan akrabnya, merasa penasaran dengan ujian kemampuan berbahasa Indonesia (UKBI) yang sulitnya bukan main dan lebih sulit dari pelajaran lainnya.

"Ketika tahu ada informasi mengenai pemilihan Duta Bahasa Jabar, saya pun tertantang untuk mengikutinya karena penasaran dan ingin belajar," ungkap perempuan yang dikenal sebagai presenter lewat acara Cinemania di salah satu stasiun lokal Bandung ini. 

Kompetisi tersebut bukan hanya sebagai pengembangan pribadi saja, bagi Rime menjadi duta bahasa adalah sebuah tugas mulia untuk menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

"Sebagai orang Indonesia, mungkin bahasa ini memang sudah diterapkan dan menjadi percakapan sehari-hari, sehingga banyak yang menggampangkan bahasa Indonesia, padahal tidak semua orang Indonesia mampu dan memahami bagaimana struktur bahasa Indonesia yang baik dan benar," ungkapnya.

Rime menilai, saat ini anak muda lebih mengenal istilah bahasa asing yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia, misalnya 'download' yang artinya adalah unduh. 

"Kita sering kali memakai kata download daripada unduh dan berbagai istilah asing lainnya. Sementara untuk menggunakan bahasa sendiri terlupakan," ujar mahasiswa jurusan bahasa Inggris di STBA Yapariaba, Bandung, yang sedang merampungkan skripsinya ini.

Sebagai agen perubahan bahasa Indonesia, mojang Bandung kelahiran Bandung 2 Desember 1987 tersebut menyebutkan, duta bahasa harus bisa memberikan pengertian dan pengaruh kepada masyarakat tentang bahasa Indonesia. Kini dengan jabatannya sebagai Ketua Ikatan Duta Bahasa Jabar, beberapa program sosialisasi masih dijalankan. Antara lain, menjadi pembicara seminar bahasa ke kampus-kampus dan mengajar anak jalanan tentang sastra Indonesia.

"Bulan ini kami juga akan menyelenggarakan pemilihan Duta Bahasa Jabar tingkat pelajar," kata Rime yang juga Duta Batik Jabar 2010 ini.

Selain tetap mengemban tugasnya tersebut, Rime yang kini sibuk berwirausaha ini pun kerap kali menerapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika dia sedang menjadi seorang master of ceremony (MC). 

"Langkah ini juga merupakan kampanye yang efektif kepada masyarakat," katanya. (neni nuraeni/koran si)(//rfa)

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/12/15/372/542549/rime-belajar-dengan-jadi-duta-bahasa
Read more...

20 Desember 2011

DUTA BAHASA HARUS MILIKI KEINGINAN KUAT LESTARIKAN BAHASA INDONESIA

0 komentar
Laporan oleh: Anton Sumantri

[Unpad.ac.id, 17/11] Menjadi Duta Bahasa bukan berarti harus selalu menggunakan bahasa Indonesia setiap waktu. Menjadi Duta Bahasa bukan pula harus selalu berbahasa Indonesia yang baku. Esensi dari menjadi Duta Bahasa adalah memiliki kepekaan untuk turut menggalang dan melestarikan bahasa, khususnya bahasa Indonesia.
Farida Rendrayani (Foto: Tedi Yusup)
Hal inilah yang dikemukakan oleh Duta Bahasa Jawa Barat, Farida Rendrayani, saat berbincang di ruang Redaksi Website Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, belum lama ini. Menurut Duta Bahasa Jabar yang juga mahasiswi Fakultas Farmasi Unpad ini, banyak terjadi kesalahan persepsi tentang predikat “Duta Bahasa”.

“Banyak yang mengira bahwa Duta Bahasa harus berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam artian bahasa Indonesia baku. Padahal yang dimaksud berbahasa Indonesia yang baik dan benar adalah menggunakan bahasa yang sesuai dengan lawan bicara dan situasi saat berbicara,” tuturnya Rabu (11/11) lalu.

Hal ini terjadi disinyalir karena kurangnya publikasi mengenai masalah ini. Ia sendiri menyadarinya oleh sebab itu, sebagai Duta Bahasa Jabar, ia pribadi ingin memberikan pengertian kepada masyarakat perihal esensi dari berbahasa Indonesia yang baik dan benar ini. Selain itu, ia juga akan menularkan kepada masyarakat mengenai penggunaan kosa kata Indonesia untuk menyebutkan sesuatu yang biasanya digunakan dalam bahasa asing.

“Tidak seperti duta-duta yang lain, pemenang ajang Duta Bahasa akan membuat program kerja selama dia bertugas sebagai Duta Bahasa. Jika di ajang-ajang yang lain, duta-duta tersebut akan menjalankan program kerja atau agenda kegiatan yang sudah diprogramkan oleh instansi dimana duta itu bernaung,” jelasnya.

Sementara itu, kecenderungan mencampur –baurkan bahasa dalam kata atau kalimat sudah banyak dilakukan oleh masyarakat khususnya di kalangan anak muda. “Contohnya seseorang mengatakan: Ya tinggal down load lah di internet,’ penggabungan kata down load dengan imbuhan lah tidak ada dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Meskipun kita mengerti maksudnya, tapi itu seharusnya tidak dilakukan karena memang salah,” ia menjelaskan.

Selain itu ia melihat masih banyak yang lebih senang menggunakan bahasa asing untuk menyebutkan sesuatu, padahal menurutnya, sudah ada kosa kata dalam bahasa Indonesia yang bermakna sama dengan kata yang disebutkan. Biasanya kosa kata ini masih berbau teknologi, seperti down load, up load, e-mail, dan sebagainya.

“Sebenarnya ada kosa kata dalam bahasa Indonesia untuk menggantikan kosa kata dalam bahasa asing tersebut. Sebagai contoh down load dalam bahasa Indonesia adalah unduh, up load dialihbahasakan menjadi unggah, e-mail adalah surat elektronik, dan masih banyak lagi leman-leman baru yang mungkin belum diketahui oleh masyarakat,” lugasnya.

Farida melanjutkan, Oktober lalu ia dan Duta Bahasa Jabar lainnya mengikuti ajang serupa tingkat nasional yang diadakan di Jakarta. “Yang mengikuti pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional adalah juara I di tingkat provinsi. Namun karena Angga (Duta Bahasa Jabar Kategori Laki-laki) sakit, maka ia digantikan oleh juara kedua,” ujar Farida.

Tidak seperti pada ajang pemilihan lainnya yang terkesan mewah, pemilihan Duta Bahasa lebih sederhana. Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional melalui beberapa proses. Selama mengikuti karantina, para peserta dibekali dengan materi kebahasaan dan perkembangan terakhir mengenai bahasa di Indonesia. Mereka juga diberi tugas untuk membuat esai tentang bahasa. Pengumuman yang menjadi Duta Bahasa Tingkat Nasional dilakukan pada saat malam keakraban.

“Tidak ada acara khusus dalam pengumuman pemenang. Pemilihan ini terkesan lebih sederhana, bahkan lebih meriah ketika Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat. Keunikan lainnya adalah peserta tidak dinilai secara inidividu tapi nilai tersebut digabung dengan Duta Bahasa pasangan atau penilaiannya secara per tim,” jelasnya. Bersama dengan pasangannya Farida menyabet juara kedua pada ajang tersebut. (eh)*

sumber: http://www.unpad.ac.id/archives/16253
Read more...

25 Januari 2011

KOKO, GEMETAR KETIKA DISEMATKAN PIN DUTA BAHASA

0 komentar

SELALU berusaha, berdoa dan bertawakal merupakan tiga kunci sukses yang membawa Koko berhasil menjadi pemenang I pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional 2006. Berpasangan dengan Henny Primasari, Koko yang memiliki nama lengkap Prakoso Bhairawa Putera S ini tak henti-henti mengucapkan syukur atas nikmat dan kesempatan yang telah diberikan oleh sang pencipta. Bahkan ketika ditemui di salah satu toko buku di Palembang, Sabtu (27/01) kemarin dengan sumringah ia kembali mengucapkan hal yang senada.   

“Alhamdulillah, inilah nikmat terbesar yang Allah berikan di tahun 2006.” tutur cowok kelahiran Tanjung Pandan (Belitung), 11 Mei 1985 mengawali ceritanya.    

Tidak banyak persiapan yang dilakukan oleh Koko sebelum berangkat ke Jakarta (5/11) untuk mengikuti proses karantina. “Secara pribadi, saya menyempatkan untuk membaca buku yang berhubungan dengan penggunaan Bahasa Indonesia.”. Lebih lanjut mahasiswa jurusan Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sriwijaya ini menuturkan bahwa yang paling ia persiapkan hanyalah mental untuk bisa mempersembahkan yang terbaik. “Karena sejak terpilih sebagai Duta Bahasa di tingkat provinsi, hanya satu hari saja waktu yang diberikan pada kami untuk mempersiapakan semua kelengkapan yang akan dibawa.”   

Jatuh Sakit dan Dibelikan Baju Batik

Padatnya jadwal karantina sempat membuat Alumni SMU 2 Sungailiat (Bangka) ini jatuh sakit. ”Bagaimana tidak, setiap hari selepas mengikuti kelas malam kita harus mengerjakan serangkaian tes dan tugas-tugas. Tidurpun baru bisa dilakukan pukul dua.” Jelas Koko.   

Namun, dukungan dan perhatian dari Linny Oktaviani selaku pendamping membuat Koko tetap bisa melanjutkan proses karantina hingga usai. Bukan hanya itu Baju Batik pun sempat dibelikan oleh pendamping untuk menunjang penampilan. “Sejak pertama masuk Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), kita (para peserta – red) diwajibkan untuk mengenakan Batik ketika malam dan pasangan dari Sumsel tidak memiliki Batik.” cerita Koko yang sehari-harinya aktif menulis opini, cerita pendek dan puisi di beberapa koran lokal dan nasional ini.   

Bukan hanya menulis untuk media-media cetak lokal dan nasional, Koko pun telah memiliki 8 buku yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit, seperti Megat Merai Kandis: Cerita Rakyat dari Bangka (Grasindo, 2005), La Runduma (Menpora-CWI, 2005), Ode Kampung: Kumpulan puisi dan esai Temu Sastrawan se-Nusantara (Rumah Dunia, 2006), 137 Penyair Menuju Bulan: Kumpulan Puisi Penyair se-Nusantara (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006), Uda Ganteng No 13 (GIP, 2006), Menggapai Cahaya (Jmed Palembang, 2006), Aisyah di Balik Tirai Jendela (Bestari-Zikrul Hakim, 2006), dan Teen World: Ortu Kenapa Sih? (Cinta, 2006). Dengan modal keterampilan menulis ini juga yang akhirnya membawa Koko dan Henny berhasil menjadi pemenang I dan berhak mengenakan pin Duta Bahasa berlapis emas 18 karat. Bahkan, Koko sempat gemetar ketika disematkan pin oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.   

Dukungan Semua Pihak 

Keberhasilan Koko menjadi Duta Bahasa tingkat Nasional tidak lepas dari dukungan dan doa semua pihak dengan tulus. “Terutama dari Kepala Balai Bahasa Palembang Drs B Trisman M Hum dan jajarannya yang telah membimbing dan menyemangati, kedua orang tua saya di Bangka, Keluarga besar HM Fikri Fathoni SE – Hj Purmanani yang selalu mendukung aktivitas saya selama di Palembang, Pimpinan dan semua jajaran di graPari Telkomsel Palembang tempat saya bekerja, Pimpinan – semua Dosen – teman-teman di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsri, dan Amelya Gustina sebagai orang yang tak henti memberikan dukungan nasihat selama saya menjalani karantina, serta Henny Primasari sebagai pasangan saya dalam meraih kesuksesan ini.” Tutur Koko dengan mata berkaca-kaca.   

Lebih lanjut Koko menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan keberhasilan kita (masyarakat Sumatera Selatan – red) dalam eksistensi pada kompetisi-kompetisi yang diadakan di tingkat nasional.   

Dengan menyandang gelar Duta Bahasa 2006, cowok dengan hobi menulis dan membaca buku ini memiliki tugas yang tidak ringan. Terlebih berdasarkan pengumuman Pusat Bahasa mengenai Penganugrahan Adi Bahasa 2006 yang merupakan penilaian terhadap provinsi-provinsi dengan penggunaan Bahasa Indonesia terbaik, Sumsel tidak masuk dalam urutan 10 besar.   

Sesuai dengan visi misi dan tugas yang telah diamanatkan oleh Mendiknas ketika puncak acara pemberian predikat Duta Bahasa (9/11) di Jakarta kemarin, dengan bersemangat Koko mengatakan ia bersama pasangannya akan berusahan berperan aktif dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia secara baik, tepat, bernalar, efektif,  dan komunikatif dalam berbahasa. Selain itu juga akan memasyarakatkan penggunaan bahasa khususnya pada ruang-ruang publik. Dan Koko sendiri telah bersiap untuk membentuk komunitas peduli bahasa, budaya dan sastra nusantara di tiap daerah dan berpusat di pusat bahasa. “Oleh sebab itu, mohon dukungan dari seluruh masyarakat Sumsel, terlebih dukungan dari Bapak gubernur dan jajaran terkait di pemerintahan Sumsel.” harap Koko.   

Tugas dan perjuangan Koko bersama Henny sebagai pasangan Duta Bahasa 2006 baru saja dimulai. Mereka bukan hanya duta bagi provinsi tercinta ini, tetapi duta bagi seluruh masyarakat Indonesia karena Koko Henny adalah Duta Nasional yang ada di bumi Sriwijaya ini.

***   
Sekilas tentang Koko 

Nama : Prakoso Bhairawa Putera  
Tempat, Tanggal Lahir : Tj. Pandan (Belitung), 11 Mei 1985 Aktivitas : Mahasiswa FISIP Unsri dan Telkomsel Personal Refresentativ graPari Palembang 
Nama Orang tua : Sulaiman BA (Ayah) dan Sri Yulyati (ibu) 
Prestasi :
Pemenang I Duta Bahasa tingkat Nasional 2006
Pemenang III Lomba Penulisan Cerita Pendek Mahasiswa se – Indonesia 2006
Peserta Program Pelayaran Kebangsaan – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 2006
Peserta Program Dialog Kebangsaan – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 2006
Finalis Lomba Karya Tulis Mahasiswa Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Wilayah A (Sumatera, DKI Jakarta dan Banten) 2006
Juara 2 kategori pelajar/mahasiswa dalam Lomba Karya Tulis Bidang Kabaharian tingkat Nasional 2005
Pemenang Favorite Pemilihan Bujang Kampus se-Sumatera Selatan 2003, dll~

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=21&dn=20070128114647
Read more...