blog ini merupakan blog duta bahasa, berisi segala informasi mengenai pemilihan duta bahasa, berita-berita seputar para duta, kegiatan para duta dan pemikiran-pemikirannya.
 
Tampilkan postingan dengan label Duta Bahasa 2011. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Duta Bahasa 2011. Tampilkan semua postingan

21 Agustus 2012

PUTRI ARIMBI, SANG PENULIS YANG MENJADI DUTA BAHASA

0 komentar

Oleh: Tim POTRET

Anda sebagai siswa atau mahasiswa? Bila ya, maka anda harus kreatif dan punya banyak prestasi donk. Hidup berprestasi adalah sebuah wujud anda sebagai orang yang kreatifdan innovative. Prestasi tentu saja tidak didapatkan secara instant, tetapi harus selalu ada upaya untuk menciptkan prestasi itu. Mungkin anda mengenal Putri Arimbi, mahasiswa Program Sarjana (S1) Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Sejak duduk dibangku SMA, Putri telah banyak meraih prestasi, hingga akhirnya ditahun 2011 Putri menjadi Duta Bahasa Provinsi Aceh.

Keikut sertaannya dalam kontes pemilihan Duta Bahasa yang diikuti oleh pemenang olimpiade Biologi Tingkat SMA/MA se-Kota Banda Aceh (2008) ini bermula dari saran teman-temannya yang menganggap dirinya mempunyai kapasitas untuk menjadi Duta Bahasa. Setelah mendaftarkan diri menjadi peserta, Putri bersaing dengan 32 peserta lainnya dan mengikuti tes Ujian Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), sebuah test seperti Toefl namun dalam bentuk bahasa Indonesia. Hasil seleksi tersebut menyisakan 10 peseta cewek dan cowok, Putri termasuk salah satu di antara 10 peserta tersebut dan menduduki posisi ke-4. Selanjutnya Putri dipasangkan dengan M. Nasir, mahasiswa FKIP Fisika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Mereka harus membuat makalah dan mempersentasikannya. Dari hasil tes makalah tersebut terpilih 5 pasang peserta. Alhamdulillah Putri masuk ke 5 besar cewek yang tepilih. Pada tahap ini Putri dipasangkan dengan M. Fadhil Ahyari.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, Putri terpilih menjadi pemenang pertama dan bersama M. Fadhil, Putri diberangkatkan ke Jakarta untuk mengikuti karantina dalam rangka pemilihan Duta Bahasa Nasional. Putri dan Fadhil tampil sebagai perwakilan Aceh. Dalam masa karantina selama 5 hari. Mereka benar-benar digembleng dengan beberapa kegiatan dan pemberian materi dari Saiful Fatan, Happy Salma, dan Putu Wijaya.

Selanjutnya mereka mengikuti tes UKBI, namun level soalnya jauh lebih sulit. Kemudian penilaian pada saat persentasi. Pada saat tes persentasi kami mengangkat tema tentang pembentukan forum bahasa di Provinsi Aceh. Kegiatan lain pada saat karantina, para duta bahasa (54 orang) ikut meramaikan peluncuran film dari Dinas Pendidikan. Filmnya tentang Gerakan Cinta Bahasa. Acara puncaknya itu berlokasi di Taman Mini dan kami menggunakan pakaian adat dari masing-masing daerah dan setiap peserta mendapatkan pertanyaan masing-masing. Banyak dari mereka yang sangat apresiasi terhadap Aceh. Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada kami adalah tentang Syariat Islam di Aceh dan tsunami. Putri merasa tertantang untuk lebih menjual nama Aceh dalam aura yang positif, karena sebagian mereka yang sangat mengkritisi Syariat Islam di Aceh.

Persoalan bahasa memang merupakan persoalan individu, namun akan menjadi permasalahan sosial di saat berinteraksi dengan orang lain. Putri menyatakan bahwa sangat disayangkan disaat orang yang berpendidikan tidak bisa berbahasa dengan baik dan benar. Menurutnya hal ini sangat dipengaruhi oleh teknologi dan juga budaya disaat sudah banyak bahasa gaul dan alay yang terserap dalam percakapan anak-anak muda saat ini. Lebih memprihatinkan lagi, jika kondisi ini terus berlanjut. Karena dampaknya akan mereka rasakan pada saat kuliah, pada saat membuat karya ilmiah, atau skripsi dan pada saat kondisi dimana mereka dituntut formal.

Dalam mempromosikan berbahasa yang baik dan benar, “Putri menyarankan untuk semua warga Indonesia memulai dari diri sendiri terlebih dahulu, selanjutnya keluarga dan teman-teman dekat. Walaupun ada sebagian yang menganggap ini tidak penting”. Ungkap anak pasangan Syarif Siregar dan Khairani, S. Pd yang juga hobi menulis. Putri sering memenangkan perlombaan menulis seperti puisi, cerpen, dan artikel. Salah satu artikelnya pernah dimuat dalam buku antologi artikel “Santeut, Khotbah Jender Pelajar Aceh” penerbit Aneuk Mulieng Publishing (2007).

Dalam menkritisi tulisannya Putri mengunggkapkan bahwa dia sangat terbuka. “Karena jika ada yang mengkritik, tandanya tulisan kita dibaca. Menulis itu tidak harus selalu bagus, yang penting kita bisa mengeluarkan gagasan kita yang bisa dibaca orang. Lalu, orang bisa memberikan masukan. Bagi Putri, sangat mudah menjadi penulis. Tips jadi penulis itu juga sangat sederhana. Ya, apa yang ada dipikiran kita, kita tuliskan saja. Jangan pikirkan benar salahnya, karena menulis itu adalah mengeluarkan ide dan gagasan kita. Kita harus sering-sering sharing dengan penulis yang lain agar kita bisa tahu dimana kekurangan dari tulisan kita.

Yuk para pembaca majalah POTRET, jangan enggan untuk menulis. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menulis, misalnya kita dapat mempengaruhi orang lain, bisa berbagi cerita, berbagi ide, dan kita juga bisa mengajak orang lain berbuat lebih melalui tulisan.” Itulah kutipan pesan-pesan Putri untuk pembaca POTRET.

Sejalan dengan POTRET edisi 54 yang mengangkat tema eksploitasi seksual anak, Putri merasa sangat prihatin melihat fenomena dan realitas kehidupan seksual anak saat ini. Menurut Putri, “Ketika melihat posisi Aceh sebagai negeri Syariat Islam, adanya tindakan eksploitasi seksual anak yang diperdagangkan di negeri syariat ini menimbulkan tanda Tanya besar di benak kita. Mengapa itu terjadi di Aceh? Lebih lanjut, ujar Putri, seharusnya Aceh yang kita kenal sebagai daerah yang ketat dalam beragama, namun bias ada praktek ESA. Betapa hati kita terenyuh dan teriris, ketika membaca berita di surat kabar daerah ini, ada dua gadis Aceh yang masih di bawah umur yang dijual ke Singapura. Sangat tragis bukan? Seharusnya, ini tidak terjadi di Aceh. Kita harus menghentikan aksi ini.

Ketika ditanya, mengapa kasus-kasus eksploitasi seksual anak, seperti pelacuran anak, penjualan anak untuk seksual, pernikahan dini, pornografi anak dan wisata seksual terjadi, Putri memaparkan bahwa karena banyak faktor. Misalnya, karena pemahaman masyarakat kita yang mengamini pernikahan dini sebagai sebuah solusi bagi kaum perempuan dan juga remaja agar tidak terlanjur dalam seks bebas. Ada juga karena rendahnya pemahaman kita terhadap bahaya eksploitasi seksual anak dan hak anak. Hal yang lebih parah lagi adalah karena adanya oknum trafficker yang memanfaatkan keadaan. Mereka memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan untuk memperdaya anak-anak dengan berbagai iming-iming seperti mendapatkan pekerjaan, lalu dibawa ke kota dan kemudian dijual untuk dijadikan sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK).

Jadi, ketika banyak masyarakat yang masih berada di bawah kesejahteraan yang pendidikannya rendah yang menginginkan ekonomi yang lebih, maka ini dijadikan peluang bisnis oleh mereka yang tidak berperikemanusiaan itu. Kita sering mengatakan keadaan ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi berlanjutnya praktek eksploitasi seksual anak ini, lanjut Putri. Ya, solusinya kita harus peduli dan kritis melihat kondisi disekitar kita. Kita harus mampu membaca fenomena dari para pelaku trafficking itu agar kita dan anak-anak perempuan yang kini terkontaminasi oleh budaya konsumtif, tidak dijakan korban lagi. Selain itu,agar kita terbentengi dari hal-hal yang bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang buruk”, masyarakat, media dan pemerintah harus saling bahu membahu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat untuk menghadapi berbagai kemungkinan buruk yang menghadang. Selayaknya kita mengajak masyarakat kita peduli mengatasi masalah ESA di tempat masing-masing.
Read more...

FADHIL: DARI DUTA BAHASA KE DUNIA MODELLING

0 komentar

MUHAMMAD Fadhil Achyari. Di kalangan anak muda Banda Aceh nama ini sudah tidak asing lagi. Wajar saja, predikat sebagai Duta Bahasa yang diraihnya pada tahun 2011 lalu telah melambungkan namanya.

Sebelumnya di tahun 2010, Fadhil juga berhasil menyandang gelar Duta Pariwisata Banda Aceh. “Untuk Duta, sudah dua kali. Duta pariwisata dan Duta Bahasa. Alhamdulillah sekali. Saya merasa senang sudah dapat menjadi banggaan  bagi orang-orang disekitar saya,” ujar Fadhil kepada The Atjeh Post, Selasa, 3 Juli 2012 di Tower CafĂ©.


Karena keranjingan berjalan di atas cat walk, Fadhil pun mulai menekuni dunia modeling. Hobby barunya ini menurut Fadhil bukan sekedar untuk menampilkan daya tarik semata, tetapi juga sebagai media untuk mengaplikasikan komunikasi yang baik bagi masyarakat.

“Menjadi model itu bukan hanya sekedar menjadi model saja, tapi juga menjadi icon bagi masyarakat umum,” ujar lelaki kelahiran 22 April 1994 ini.

Kepada The Atjeh Post, Fadhil mengatakan jika predikat Duta Bahasa yang dicapainya pada tahun 2011 lalu merupakan awal karirnya di dunia modeling. Hingga sekarang ia sudah sering memperagakan busana dari para desainer ternama di Indonesia.

Ia berharap dengan berjalannya program Duta Mahasiswa yang digagas oleh Balai Bahasa Banda Aceh tersebut, dapat meningkatkan minat masyarakat dalam bidang bahasa dan tidak menganggap remeh bahasa ibu.

Bahkan, menurutnya Bahasa Indonesia lebih sulit ketimbang Bahasa Inggris yang sudah menjadi keharusan kurikulum di sekolah.

“Biasanya orang meremehkan Bahasa Indonesia atau bahasa ibu, sebenarnya itu lebih sulit daripada Bahasa Inggris atau bahasa kebangsaan orang yang harus dikuasai oleh siapa pun dan sudah menjadi kewajiban bagi kurikulum sekolah pada umumnya,” Ujar Fadhil.[]

Sumber: http://atjehpost.com/read/2012/07/05/13889/47/6/Fadhil-dari-Duta-Bahasa-ke-Dunia-Modelling

Read more...

05 Maret 2012

(VIDEO) PENAMPILAN PESERTA FINALIS DUTA BAHASA 2011

0 komentar
Read more...

29 Februari 2012

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2009 TENTANG BAHASA SEBAGAI UPAYA MENGHADAPI TANTANGAN ERA GLOBALISASI

0 komentar

Makalah oleh Rahmi Yulia (Pemenang II Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2011)

I.  PENDAHULUAN

Kalangan bahasawan fungsional selalu menyatakan bahwa bahasa merupakan praktik sosial. Sebagai praktik sosial, bahasa mengalami perubahan  yang terus-menerus bergantung pada realitas yang melingkunginya. Globalisasi adalah satu realitas masa kini yang dari sudut bahasa, tidak dapat dihindari, dan memengaruhi praktik berbahasa. Pengaruh datang dari bahasa asing yang merupakan alat pengantar gagasan dan produk modern apa pun.

Jika kita melihat keadaan berbahasa di sekeliling kita di Indonesia, fenomena yang marak terjadi adalah sikap lebih menghargai bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan makin membudayanya pemakaian bahasa Inggris yang tidak pada tempatnya terutama didukung oleh industri periklanan yang gencar mempromosikan produk dalam bahasa Inggris “setengah-setengah” di media apa pun. Selain penggunaan bahasa gado-gado Indonesia-Inggris, terjadi pula pemelesetan lafal dan ejaan, bentuk penyingkatan kedua bahasa itu, serta pengacauan fungsi huruf kecil, huruf besar, angka, dan tanda baca (yang dikenal dengan ragam bahasa alay).

Kenyataan era globalisasi yang ditandai dengan terjadinya perusakan bahasa sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, menuntut para pengambil kebijakan di bidang bahasa bekerja lebih keras untuk lebih menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa. Salah satu upaya peningkatan pembinaan bahasa tersebut adalah perancangan undang-undang bahasa yang dikenal dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 ini khususnya tentang Bahasa, masih mengalami pro dan kontra. Di satu sisi, kehadiran undang-undang kebahasaan ini dianggap sebagai laku politik yang bukanlah solusi tepat dalam penyembuhan praktik kebahasaan sebagaimana sumber informasi yang diperoleh dari Tempo Online. Namun di sisi lain, Undang-undang Nomor 24 ini hadir sebagai upaya dalam mempertahankan konsistensi penggunaan bahasa Indonesia dalam menghadapi tantangan global.

Untuk itu, dalam tulisan ini akan dipaparkan mengenai dampak era globalisasi terhadap bahasa Indonesia, Implementasi Undang-undang nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa sebagai upaya menghadapi tantangan global, dan kendala pengimplementasian undang-undang bahasa tersebut di Indonesia.

II. PEMBAHASAN

Era globalisasi akan  menyentuh semua aspek kehidupan, termasuk bahasa. Pada aspek kebahasaan, dampak negatif dari era globalisasi ini ditandai dengan lunturnya kecintaan dan kebanggaan bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan kurangnya perhatian terhadap pengembangan, pembinaan dan pelindungan bahasa Indonesia. Lunturnya kecintaan masyarakat Indonesia terhadap bahasa Indonesia membuat masyarakat Indonesia lebih menghargai bahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia.

Beragam iklan dan tulisan yang dipasang di ruang-ruang publik cenderung menggunakan bahasa asing karena dirasa produk tersebut akan lebih laku jika dipromosikan dengan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Para pelajar lebih senang dan bangga jika belajar dan mampu berbahasa asing dibandingkan bahasa Indonesia, sebagaimana lebih luas dan bebasnya memeroleh pekerjaan jika menguasai bahasa asing tanpa peduli kemampuan berbahasa Indonesia. Pada forum-forum yang bersifat nasional dan internasional di Indonesia, masyarakat Indonesia cenderung menggunakan bahasa asing karena dianggap lebih memiliki nilai jual dibandingkan bahasa Indonesia.

Dampak negatif  kedua yang terjadi akibat masukya era globalisasi adalah fenomena kekerasan verbal,  alih kode, penyingkatan bahasa dan penggunaan bahasa slang. Kenyataan berbahasa Indonesia yang makin jelas terlihat dewasa ini adalah kekerasan verbal  melalui penggunaan ungkapan sumpah serapah, kalimat dengan gaya bahasa kasar, dan sindiran. Ungkapan serapah makin banyak memasuki ruang-ruang publik, mulai dari forum diskusi dan ruang mengobrol di internet, komunikasi melalui telepon seluler, novel remaja, acara sinetron dan acara realitas (reality show) di televisi, bahasa-bahasa di papan iklan, hingga di gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

Para pengguna dengan santainya berekspresi menggunakan bahasa yang dianggap gaul, termasuk dalam berserapah tanpa kekhawatiran diawasi atau dianggap tidak santun. Berserapah, baik untuk tujuan memperkuat solidaritas pertemanan maya maupun tujuan melawan musuh maya, menjadi tidak tabu dalam komunikasi melalui komputer. Ruang-ruang obrolan di internet pun menyebarluaskan serapahan baru yang dilancarkan remaja seperti cupu, anjrit, katro, jayus, lemot, jijay, jablay, gokil, dan lain sebagainya.

Fenomena alih kode yang mengacu kepada tindakan seorang penutur yang memasukkan kosa kata dan frase dari bahasa tertentu ke dalam bahasa yang digunakannya. Berkembangnya  alih kode di kalangan generasi muda Indonesia memang terkait erat dengan gaya hidup. Sebagian besar masyarakat kelas menengah ke atas lebih memilih sekolah swasta berstandar internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dalam proses belajar-mengajar. Ironisnya, sebagian pembelajar tersebut merasa bangga bila tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, akan tetapi lebih bangga menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi karena menganggap bahasa inggris memiliki gengsi yang lebih besar ketimbang mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai dampak dari era globalisasi juga dapat dilihat pada fenomena penyingkatan kata-kata dan munculnya fenomena bahasa slang. Fenomena kebahasaan ini seringkali terjadi di dalam komunikasi lisan dan tulisan melalui media internet dan telepon genggam yang dinilai berpotensi merusak bahasa Indonesia baku. 

Beberapa contoh kata bahasa Indonesia yang mengalami penyingkatan:
·        terima kasih menjadi trims;
·        akhiran –nya menjadi x.
·        t4 dibaca tempat;
·        j4n9n dicob4 dibaca jangan dicoba;
·        s2 dibaca situ.

Beragam kosa kata tersebut digunakan oleh penutur asli bahasa Indonesia ketika mereka berbincang melalui media internet (chatting) dan menulis pesan singkat melalui telepon genggam. Fenomena perusakan kebahasaan seperti ini perlu diperbaiki untuk mempertahankan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional yang melambangkan jati diri bangsa. Perlunya pengembangan, pembinaan, dan pelindungan terhadap bahasa Indonesia. Implementasi Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 adalah upaya dalam mewujudkannya, agar bahasa Indonesia mampu bertahan dan bersaing di tengah derasnya arus globalisasi menyerbu bangsa Indonesia.

Rancangan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa mempunyai cakupan yang terkait dalam aspek kenegaraan seperti pembuatan nota kesepakatan, dokumen resmi negara, surat resmi, pidato kenegaraan, pengantar pendidikan, pertemuan formal, nama lembaga pemerintah atau swasta, geografi, karya ilmiah, nota kesepahaman dalam dan luar negeri. Cakupan lainnya meliputi nama bangunan, kawasan pemukiman, informasi petunjuk produk, iklan, papan petunjuk, slogan, dan petunjuk lalu lintas. Rancangan perundangan juga akan mengatur penguasaan bahasa Indonesia bagi orang asing dan pengantar seksi tenaga kerja.

Pada bagian pertama undang-undang kebahasaan dipaparkan bahwa status bahasa Indonesia  dinyatakan sebagai bahasa resmi  negara dan  berfungsi sebagai jati diri bangsa. Bagian ini menyadarkan bangsa Indonesia akan pembenaran peribahasa bahasa menunjukkan bangsa. Jika pasal-pasal dalam bagian pertama ini diimplementasikan, maka era globalisasi bukanlah momok yang menakutkan dan perlu dikhawatirkan, tetapi fenomena yang perlu diantisipasi dengan arif dan cermat. Perkembangan bahasa Indonesia tidak ada masalah dalam globalisasi karena ia memang berada di dalamnya. Persoalannya adalah bagaimana menjadikan bahasa Indonesia memiliki posisi kuat di tengah derasnya arus globalisasi ini.

Untuk itu, kehadiran Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa akan menjadi jalan keluar dalam menangkis tantangan globalisasi tersebut. Era boleh saja berubah. Selama bangsa Indonesia masih berpegang teguh pada bahasa persatuannya bahasa Indonesia, bahasa Indonesia akan menjadi objek perubahan tanpa menanggalkan jati dirinya sebagai bangsa yang beradab, bahkan mampu menjadi bahasa yang mengglobal.

Pada bagian kedua, Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bahasa mengurai tentang penggunaan bahasa Indonesia, mulai dari pasal 26 hingga pasal 40. Implementasi dari ketigabelas pasal tentang penggunaan bahasa Indonesia ini sesungguhnya belum mencapai kesempurnaan.  Salah satu surat kabar daerah mengabarkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato dalam bahasa Inggris dalam pembukaan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-16 Gerakan Non-Blok di Nusa Dua, Bali. Berita ini tidak hanya menuai kritik karena Presiden Republik Indonesia telah melanggar Pasal 28 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009, tetapi juga memberikan contoh yang kurang baik bagi masyarakatnya.

Padahal sebagai pemimpin negara dan tauladan bangsa, sudah selayaknya presiden kita mengimplementasikan pasal 28 tersebut. Presiden tidak hanya sebagai tauladan tetapi juga ikon yang akan mengenalkan bahasa Indonesia ke dunia luar. Pengenalan Indonesia dengan mengglobalkan penggunaan bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan mengimplementasikan pasal 28 dan 32  Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 ini. Sehingga era global tidak lagi memengaruhi bahasa Indonesia, tetapi sebaliknya  bahasa Indonesia mengambil peluang pada era ini untuk menjadi bahasa yang digunakan secara global.

Pada pasal lain, dipaparkan bahwa bahasa Indonesia  wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. Sebagai contoh kecil di Ibukota Jakarta, tidak sedikit ditemukan nama-nama bangunan yang masih menggunakan bahasa asing seperti gedung Park Hotel, Grand Indonesia Shoping Town, Pacific Place, Jakarta Convention Center, merek dagang seperti Exelco Cafe , Marina UV White, dan lain-lain.

Seandainya pasal 36 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 ini diimplementasikan, maka kita akan menemukan mal atau pusat-pusat perbelanjaan di kota Jakarta berganti nama dari kata mall menjadi mal, seperti Mal Atrium, Mal Arion, Mal Kelapa Gading, Pusat Berbelanja Indonesia yang Megah, Balai Sidang Jakarta, Kafe Ekselso, Marina Pemutih dengan Perlindungan Sinar UV,  dan lain sebagainya. Implementasi dari pasal 36 ini menunjukkan  bahwa pusat-pusat perekonomian di Indonesia mampu bersaing dengan bangsa asing. Tanpa menggunakan bahasa asing, bangsa Indonesia bisa leluasa mempromosikan produk dan karyanya untuk menarik selera konsumen. Pasal ini akan menimbulkan kecintaan pada produk negara sendiri. Jika kecintaan akan produksi Indonesia telah tumbuh dan berkembang, maka persaingan pasar bebas pun dapat dikendalikan. Semuanya kembali berpulang pada pengimplementasian undang-undang kebahasaan ini. 

Jawaban tantangan era globalisasi lainnya dapat dilihat pada pasal 29 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009.  Di Indonesia, kini telah hadir sekolah rintisan berstandar internasional atau yang disingkat dengan RSBI. Keberadaan rintisan sekolah bertaraf  internasional (SBI) telah menimbulkan segala bentuk kekhawatiran.  Dari sudut pandang kebahasaan, rintisan sekolah bertaraf internasional telah memicu keengganan siswa dan guru menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Solusinya, pasal 29 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 perlu diimplementasikan.

Bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa yang mengglobal di tengah-tengah era globalisasi jika bagian ketiga dan keempat dari undang-undang kebahasaan diimplementasikan. Sudah sepatutnya pemerintah memberikan perhatian yang serius dalam pengembangan, pembinaan dan perlindungan bahasa Indonesia sebagai wujud nyata dari pasal 41, pasal 42, dan pasal 43 Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bahasa. Jika pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa Indonesia sudah diaplikasikan, maka tidak tertutup kemungkinan pengimplementasian bagin keempat dari undang-undang kebahasaan yang mengatur  peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional.

Meskipun penggunaan bahasa Indonesia masyarakat telah ada yang mengacu pada undang-undang ini, namun masih banyak yang mengabaikan begitu saja. Hal ini disebabkan tidak adanya sanksi tegas atas pelanggaran undang-undang ini. Eef Saifullah Fatah dalam pembicaraannya mengenai Generasi Muda dan Ketahanan Nasional dalam acara Pemilihan Duta Bahasa Nasional di Badan Bahasa 24 Oktober 2011 lalu menjelaskan bahwa terdapatnya kelemahan dalam pengimplementasian undang-undang termasuk undang-undang bahasa. Adapun kelemahan tersebut adalah aturan perundang-undangan yang tidak selesai, undang-undang yang tidak dilengkapi dengan perangkat penegak yang kuat, dan terjadinya “pembiaran” pada pelanggaran sehingga pelanggaran tersebut menjadi sebuah kelaziman.

III. PENUTUP

Kehadiran era globalisasi seharusnya bukanlah menjadi hambatan untuk mencintai bahasa sendiri sebab bahasa Indonesia merupakan jati diri atau ciri khas kita sebagai bangsa Indonesia. Untuk itu, rancangan undang-undang kebahaaan adalah salah satu upaya menghadapi tantangan era globalisasi. Rancangan tersebut berfungsi untuk melindungi undang-undang penggunaan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia perlu diatur oleh undang-undang sebab apabila bahasa Indonesia tidak diatur oleh undang-undang, maka masyarakat akan seenaknya menggunakan bahasa yang mereka anggap betul. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar pun akan tinggal sebagai semboyan.

Realita yang terjadi adalah meskipun sudah ada undang-undang yang mengatur tentang penggunaan bahasa Indonesia, masih banyak masyarakat yang tidak peduli dan mengabaikannya begitu saja. Fenomena seperti ini tidak ubahnya seperti untaian kata Kahlil Gibran: Membuat undang-undang seperti anak-anak yang membuat rumah-rumahan pasir di pinggir pantai, tiba-tiba tertawa ketika rumah-rumahan tersebut roboh diterpa air. Pelanggaran undang-undang seperti sudah sebuah kelaziman karena pembuatan undang-undang itu memiliki kelemahan.

Sulitnya pengimplementasian Undang-undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Bahasa disebabkan bahasa adalah konsensus, bahasa adalah benda hidup, bahasa berkembang sepanjang hayat, dan bahasa bersifat dinamis. 

DAFTAR PUSTAKA

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional. 2011.  Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional
  • Departemen Pendidikan Nasional. 2003.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
  • Harwati, Lusia Neti. 2010. Perubahan Bahasa Indonesia Sebuah Bentuk Reativitas dan Sekaligus Fenomena Melemahnya Karakter Bangsa. Makalah yang disajikan  dalam Seminar Nasional Bulan Bahasa, 30 Oktober 2010.
  • Yuwono, Untung. 2010. Pemakaian Bahasa Indonesia sebagai Cermin Karakter Bangsa Indonesia Dewasa Ini. Makalah yang disajikan  dalam Seminar Nasional Bulan Bahasa, 30 Oktober 2010.
Sumber: http://rahmiyuliaduta.blogspot.com/
Read more...

03 Februari 2012

(VIDEO) RAHMI YULIA NINGSIH, DUTA BAHASA & JUARA BACA PUISI

0 komentar
Rahmi Yulia Ningsih, Duta Bahasa DKI Jakarta dan Duta Bahasa II Tingkat Nasional 2011, membacakan puisi "Cintamu Padaku" karya Helvy Tiana Rosa dari buku puisi: Mata Ketiga Cinta (Asma Nadia Publishing House, 2011)
Read more...

30 Oktober 2011

Hanifan Faudi Mubin dan Elizabeth Yuniar, Pemenang Duta Bahasa Tingkat Nasional 2011

0 komentar
Penutupan dan acara puncak Bulan Bahasa 2011 yang digelar di Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta meriah. Sedikitnya 2000 peserta yang terdiri para siswa, guru, sastrawan, penerima penghargaan, pemenang lomba, pemuda, organisasi, pejabat pemerintah dan berbagai komponen masyarakat lainnya numplek jadi satu. 

“Sejak dini anak-anak harus sudah diajarkan Bahasa Indonesia dengan baik, sehingga memperkuat bahasa nasional kita,” kata Ketua Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud Agus Dharma Ph. D usai acara punck di TMII, Jakarta, Jumat (28/10). 

Dalam acara tersebut juga dicanakan juga Gerakan Nasional Cinta Bahasa Indonesia (GCBI). Merupakan gerakan yang dilatar belakang oleh perubahan prilaku masyarakat Indonesia dalam bertindak dan berbahasa. Mengingat kondisi tersebut, perlu dilakukan penegasan dan pemantap kembali kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa negara, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada tatanan kehidupan global. 

Salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk itu adalah menanamkan kembali kecintaan dan kebanggan masyarakat terhadap bahasa Indonesia. CGBI adalah salah satu bentuk kegiatan nyata yang dilakukan dalam rangka mewujudkan dan menumbuhkan perasaan cinta terhadap bahasa Indonesia. 

Puncak acara kegiatan GCBI dilaksanakan dalam bentuk pemberian penghargaan kepada tiga instansi/lembaga yaitu PT. Carrefour, PT. Angkasa Pura II dan Hotel Borobudur sebagai instansi/lembaga yang depuli dalam penggunaan bahasa Indonesia di instansi/lembaganya dan penyerahan panji GCBI kepada Gubernur DKI Jakarta, Gubenur Jawa Tengah dan Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai perwakilan dari kepala daerah se-Indonesia. 

Pada acara tersebut diumumkan juga pemenang Pemilihan Duta Bahasa 2011, yaitu: 

Pemenang I Hanifan Faudi Mubin dan Elizabeth Yuniar, Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah
Pemenang II: Wahyudi dan Rahmi Yulia Ningsih, Duta Provinsi DKI Jakarta
Pemenang III: Pradipta Dirgantara dan Yesi Haerunisa, Duta Bahasa Provinsi Jawa Barat

Pemenang Harapan I: Putu Ariek Mahardika Putra dan Ni Nyoman Ayu Suciarti, Duta Bahasa Provinsi Bali
Pemenang Harapan II: Hot Maringan Samosir dan Nuri Yunita Hasan Nasution, Duta Bahasa Provisi Sumatra Utara
Pemenang Harapan III: Aditia Prethama dan Riza Sriwahyuni, Duta Provisi Kalimatan Tengah.

Selamat kepada seluruh pemenang, kontribusi nyata bagi perkembangan dunia Bahasa dan Sastra di Indonesia menjadi bagian penting yang harus terus disemarakkan. Sampai berjumpa kembali dalam kegiatan Pemilihan berikutnya...
Read more...

01 Oktober 2011

FADHIL DAN PUTRI DUTA BAHASA ACEH 2011

0 komentar

BANDA ACEH - Pasangan M Fadhil Achyari dan Putri Arimbi Siregar, terpilih sebagai Duta Bahasa tingkat Provinsi Aceh, setelah menyingkirkan 29 pasangan peserta lainnya dalam Lomba Pemilihan Duta Bahasa yang diselenggarakan Balai Bahasa Banda Aceh pada 6-12 Oktober lalu. 

Dengan kemenangan tersebut, keduanya memastikan diri untuk maju mewakili Aceh di ajang Pemilihan Duta Bahasa tingkat Nasional yang akan diselenggarakan pada 23-29 Oktober mendatang, di Jakarta.

Fadhil dan Putri berhasil keluar sebagai peserta lomba terbaik dalam setiap tahapan di antaranya Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), pembuatan makalah yang dilanjutkan dengan presentasi, dan wawancara. “Awalnya ada 30 pasang peserta yang ikut lomba ini, termasuk kami pada tahap UKBI pada 6 Oktober 2011,” kata Fadhil kepada Serambi, Kamis (13/10).

Dari tahapan tersebut, lanjutnya, terpilih 10 besar untuk mengikuti tahap pembuatan makalah dan presentasi. Lalu mengkerucut menjadi lima pasang pada grand final untuk mengikuti wawancara. Di tahap ini terpilih empat pasang yang keluar sebagai juara I, II, II, dan favorit. “Kami terpilih sebagai juara I Duta Bahasa Provinsi Aceh,” rinci Fadhil, Kamis (13/10).

Fadhil yang merupakan Duta Wisata Kota Banda Aceh 2010 ini mengatakan sedang giat-giatnya belajar Bahasa Perancis sebagai bekal mencari nilai tambah saat mengikuti lomba di tingkat nasional nanti. 

Sebagai Duta Wisata Kota Banda Aceh 2010, Fadhil yang bercita-cita menjadi diplomat ini juga menguasai tari Saman dan Seudati. Jika sewaktu-waktu diminta menarikan Tari Aceh di tingkat nasional ia menyatakan siap. “Syarat menjadi duta adalah peserta minimal berusia 18 tahun lulus SMA, bisa Bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah. Peserta juga harus memiliki kepribadian menarik,” katanya. 

Umumnya peserta memilih bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Tapi, ada juga yang pakai Bahasa Arab, Jerman, dan bahasa lain. Yang penting menguasai tiga bahasa salah satunya bahasa asing. “Saya pilih Bahasa Perancis sebagai bahasa tambahannya,” papar Fadhil yang baru saja lulus SMA dan berencana mengikuti program pertukaran pelajar ke Australia awal tahun depan.

Putri Arimbi Siregar menambahkan tugas Duta Bahasa nantinya adalah mempromosikan bahasa, khususnya Bahasa Indonesia kepada generasi muda. “Tugas kita, mempromosikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar termasuk mengenalkan kosakata baru,” sebut Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Syiah Kuala, Jurusan Ilmu Komunikasi ini. (ami)

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2011/10/14/fadhil-dan-putri-duta-bahasa-2011
Read more...

NURI HASAN NASUTION DAN HOT MARINGAN SAMOSIR,S.SOS. MENJADI DUTA BAHASA SUMUT 2011

0 komentar
Medan – Nuri Hasan Nasution dan Hot Maringan Samosir, S.Sos. meraih gelar Duta Bahasa Sumut 2011 setelah mengalahkan para peserta lain dalam Acara Pemilihan Duta Bahasa se-Provinsi Sumut tahun 2011 di gedung Balai Bahasa Medan Sabtu (1/10) siang. Nuri dan Hot Maringan menggantikan posisi Duta Bahasa Sumut 2010 yang disandang Aminah Rizki Lubis dan Edward Tosio Siahaan.

Dari kiri ke kanan: (Atas) Rezeky Lubis (Duta Bahasa Sumut 2009), Dewan Juri (Anharuddin Hutasuhut, Wartono, Wawan, Suyadi, Hasan Al Banna), dan Citra Hasan Nasution (Duta Bahasa Sumut 2007), (Bawah) Hot Maringan Samosir, Nuri Hasan Nasution, Sukma Septian Nasution, Aini Melbebahwati Saragih, Harnoi Asrin Lumban Gaol, dan Tiflatul Husna

Kepala Balai Bahasa Medan Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D. didampingi Ketua Ikatan Duta Bahasa Sumut Citra Hasan Nasution, S.Pd. menyampaikan, siapa pun yang terpilih menjadi Duta Bahasa Sumut tahun ini, harus mampu menjadi duta untuk mengenalkan budaya Sumut melalui kekayaan bahasa daerah Sumut yang beragam di kancah nasional.

”Mereka akan berkompetisi di Pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional dengan Duta Bahasa provinsi lain se-Indonesia pada Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2011 di Jakarta tanggal 28 Oktober nanti sehingga mereka harus cerdas, cakap, dan bermental baja dalam mengikuti acara itu,” kata Prof. Amrin.

Ada 26 peserta yang terdiri dari 14 putra dan 12 putri berkompetisi pada acara tersebut. Mereka telah mengikuti beberapa seleksi diantaranya tes tertulis yaitu Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), wawancara tentang wawasan Kebahasaan, Uji Bahasa daerah dan asing, dan juga kepribadian selama acara. Pemenang II diraih Sukma Septian Nasution dan Aini Melbebahwati Saragih yang kedua-duanya adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan dan Pemenang III diraih Harnoi Asrin Lumban Gaol (mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan) dan Tiflatul Husna (mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UMN-Alwasliyah).

Duta Bahasa Sumut 2011 putri Nuri Hasan Nasution yang merupakan Pemenang III Duta Pariwisata Sumut 2008 dan mahasiswa semester I Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan bertujuan agar mampu menjadikan sastra Indonesia menarik dan menyenangkan bagi generasi muda. ”Saya bertujuan agar mampu membentuk Rumah Baca karena melalui membaca dan menulis para pemuda Indonesia menjadi cerdas, kreatif, dan berhati nurani,” tandas mahasiswi yang gemar membaca dan menulis ini. Duta Bahasa Sumut 2011 putra Hot Maringan Samosir, S.Sos. yang merupakan alumni FISIP Universitas Sumatera Utara dan aktif di komunitas Debat Bahasa Inggris se-Sumatera Utara juga menuturkan bahwa ajang seperti ini juga bertujuan untuk membuat suatu gerakan sosial bagi kaum muda untuk bangga berbahasa Indonesia. ”Saya sedih jika begitu banyak pemuda yang sering memakai jargon seperti MC, presenter, microphone, lunch, event, dan masih banyak lagi padahal semua itu sudah ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, ” ujarnya.  

Ketua Ikatan Duta Bahasa Sumut Citra Hasan Nasution, S.Pd. juga menyampaikan bahwa Duta Bahasa Sumut 2011 nantinya akan berkompetisi di tingkat nasional dengan memakai bahasa Indonesia tentunya, bahasa Mandailing, bahasa Batak Toba, bahasa Inggris dan Jerman. ”Mereka akan memakai pakaian adat Batak Toba atau Mandailing pada Puncak Acara di Jakarta nanti sehingga akan menunjukkan identitas Sumatera Utara” tandasnya.

Sumber: http://dubassumut.blogspot.com/2011/10/nuri-hasan-nasution-dan-hot-maringan.html
Read more...

20 September 2011

PEMILIHAN DUTA BAHASA TINGKAT PROPINSI ACEH TAHUN 2011

0 komentar
BANDA ACEH - Balai Bahasa Banda Aceh mulai membuka pendaftaran peserta “Duta Bahasa 2011”, sejak Senin (12/9) kemarin. Peserta yang mewakili Duta Bahasa dari Aceh nantinya, akan berkompetisi lagi di tingkat nasional pada Oktober mendatang.

Kepala Balai Bahasa Banda Aceh, Teguh Santoso, mengatakan pemilihan Duta Bahasa dilakukan setiap tahun.  Pendaftaran sudah dibuka sejak kemarin sampai dengan 30 September 2011. Namun, pendaftaran segera ditutup jika pesertanya sudah berjumlah 30 orang meskipun belum tanggal 30 September.

“Tujuan pemilihan ini  adalah mengajak generasi muda menjadi Duta Bahasa  yang mampu memasyarakatkan bahasa agar penggunaan bahasa di masyarakat menjadi  baik dan benar. Misi lainnya, pemasyarakatan bahasa dan partisipasi generasi muda dalam melestarikan bahasa daerah,” kata Teguh Santoso kepada Serambi, Senin (12/9) kemarin.

Selain itu, kata Teguh,  kegiatan tersebut juga bagian dari program pertukaran budaya antar-provinsi. Itu sebabnya, calon-calon yang akan mendaftar, wajib bisa berbahasa Aceh, selain bahasa asing.

Diakuinya, saat ini Balai Bahasa Banda Aceh juga menambah beberapa kriteria teknis lain, seperti tinggi badan minimal 160 cm untuk perempuan dan 165 cm untuk laki-laki.

“Awalnya kriteria hanya pada IQ, namun sekarang penampilan kami masukkan jadi salah satu syarat. Kalau tidak, calon-calon kita kebanting di Jakarta, susah bersaing di sana,” kata Teguh.

Ia menambahkan, Aceh belum pernah meraih juara I nasional. Duta Bahasa dari Aceh hanya pernah meraih juara harapan pada tahun 2010 lalu. Teguh berharap Aceh kali ini bisa masuk nominasi.

Kepada masyarakat Aceh yang berminat menjadi peserta, kata Teguh, bisa mendaftarkan diri ke Balai Bahasa Banda Aceh, Jalan Panglima Nyak Makam 21, Lampineung, Banda Aceh. Atau bisa telepon ke nomor (0651)7551096.(sak)
 
Read more...

10 September 2011

PEMILIHAN DUTA BAHASA SE-PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2011

0 komentar
Ikatan Duta Bahasa Sumatera Utara akan mengadakan kegiatan Pemilihan Duta Bahasa se-Provinsi Sumatera Utara 2011. Kegiatan ini telah terselenggara oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dahulu Pusat Bahasa) Kementrian Pendidikan Nasional dari tahun 2006 sampai 2010 tingkat nasional. Provinsi Sumatera Utara telah memboyong beberapa penghargaan seperti Juara IV Duta Bahasa tingkat Nasional tahun 2006, Juara III Duta Bahasa tingkat Nasional tahun 2007, Juara Favorit Duta Bahasa Pria tingkat Nasional tahun 2008, dan Juara V Duta Bahasa tingkat Nasional tahun 2010. Maka, Duta Bahasa Sumatera Utara 2011 diharapkan mampu mengharumkan nama provinsi Sumatera Utara di kancah nasional.

Tujuan
a)  Mengembangkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
b) Menambah wawasan generasi muda tentang bahasa Indonesia
c) Mencari tunas muda yang mampu berbahasa Indonesia, berbahasa daerah dan berbahasa asing secara proporsional
d) Duta yang terpilih dapat memengaruhi lingkungannya untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar

Persyaratan Peserta
a) warga negara Indonesia;
b) berusia maksimal 25 tahun;
c) belum menikah;
d) berpendidikan minimal SMA/sederajat;
e) memiliki kemampuan berbahasa Indonesia, menguasai salah satu bahasa daerah wilayah Sumatera Utara, dan sekurang-kurangnya mampu berbahasa asing;
f) mempunyai pengetahuan tentang provinsi Sumatera Utara;
g) berkepribadian baik dan berpenampilan menarik;
  
Pendaftaran
Pendaftaran dimulai dari tanggal 05 s.d. 22 September 2011. Pendaftaran dapat dilakukan melalui daring (online) yaitu dengan langkah-langkah berikut ini:
a) mengisi Formulir Pendaftaran yang tertera di sebelah kanan atas blog ini;
b) membuat data (scan) KTP, sertifikat/piagam, foto diri berwarna ukuran kartu pos, dan slip pembayaran dari Bank dalam bentuk .jpg; 
c) mengirim data KTP, sertifikat/piagam, foto diri berwarna ukuran kartu pos, dan slip pembayaran dari Bank melalui pos-el ke: idbsumut@gmail.com; 
d) mengirim uang pendaftaran paling lama tanggal 22 September 2011 sebesar Rp 50.000,- ke rekening BNI Syariah a.n. Citra Hasan dengan no.rekening: 0193893626.

Penilaian
Dalam penilaian, panitia penyelenggara kegiatan Pemilihan Duta Bahasa se-Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 menentukan sejumlah ketentuan sebagai berikut:
a)   Seleksi dilakukan dalam dua jenis, yaitu:
1. Babak Tertulis; peserta akan melakukan tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).
2. Babak Wawancara; peserta akan menjawab pertanyaan dari dewan juri yang diajukan dalam tiga bahasa, yaitu bahasa daerah wilayah Sumatera Utara, Indonesia, dan asing.
b)  Penilaian secara keseluruhan meliputi: hasil tes UKBI,,dan kepribadian peserta yang meliputi kedisiplinan, keaktifan, kesopanan, kerapihan, dan kepemimpinan.
c)  Dewan juri akan menentukan pemenang umum (satu putera, satu puteri) dan pemenang favorit (satu putera, satu puteri).
d) Pemenang umum berhak mewakili Provinsi Sumatera Utara untuk Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.
e)   Keputusan Dewan Juri tidak bisa diganggu gugat. 

Tempat dan Tanggal:
Tanggal 24 September dan 01 Oktober 2011
 di  Gedung Balai Bahasa Medan Lantai 2 
 Jalan Kolam (Ujung) Medan Estate 
 Medan 


Hari/Tanggal
Pukul
Acara
Sabtu /
24 September 2011
08.00 – 12.00 wib
Tes UKBI
Sabtu /
01 Oktober 2011
08.00 – 16.00 wib
Wawancara & Pengumuman

Informasi lebih lanjut hubungi:
Panitia Pemilihan Duta Bahasa se-Provinsi Sumatera Utara 2011
Jalan Kolam (Ujung) Medan Estate Medan
Citra Hasan: 081375224036
Laman: www.dubassumut.blogspot.com
Pos-el: idbsumut@gmail.com
Facebook Grup: Pemilihan Duta Bahasa Sumatera Utara 2011





















 Sekilas tentang UKBI 
Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)* dirintis melalui berbagai peristiwa kebahasaan yang diprakarsai Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional.  Materi soal UKBI (Mendengarkan, Merespons Kaidah, Membaca, Menulis, dan Berbicara) diejawantahkan dari materi-materi penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulis dalam ranah-ranah komunikasi tersebut. Selain menekankan pengukuran terhadap empat keterampilan berbahasa tersebut, UKBI juga mengukur pengetahuan peserta uji dalam penerapan kaidah bahasa Indonesia.

*) Melalui Surat Keputusan Mendiknas Nomor 152/U/2003 tanggal 28 Oktober 2003, Menteri Pendidikan Nasional telah mengukuhkan UKBI sebagai sarana untuk menentukan kemahiran berbahasa Indonesia di kalangan masyarakat.
 
Read more...

PEMILIHAN DUTA BAHASA TINGKAT PROVINSI BANGKA BELITUNG

0 komentar
Dalam rangka membangkitkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dan menambah wawasan generasi muda tentang bahasa Indonesia serta mencari tunas muda yang mampu berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan berbahasa asing, Kantor Bahasa Kepulauan Provinsi Bangka Belitung, Kementerian Pendidikan Nasional, akan menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi.
Persyaratan Peserta
• Peserta berusia antara 18--25 tahun dengan tinggi badan minimal 165cm untuk peserta laki-laki dan 155cm untuk peserta perempuan.
• Peserta minimal berpendidikan SLTA (dibuktikan dengan ijazah terakhir).
• Peserta belum menikah.
• Mampu menggunakan bahasa daerah, bahasa Indonesia dan satu bahasa asing dengan baik.
• Mempunyai wawasan kedaerahan dan nasional yang luas...

Pasangan pemenang akan mendapatkan piagam dan uang tunai sejumlah :

Juara 1 : Rp3.000.000,00
Juara 2 : Rp2.000.000,00
Juara 3 : Rp1.000.000,00
serta nantinya akan dikirim untuk mengikuti ajang Duta Bahasa Tingkat Nasional dan memperebutkan total hadiah sebesar Rp27.000.000,00 (pajak ditanggung pemenang).

Teknik Pelaksanaan :

1. TAHAP PENDAFTARAN (12--26 SEPTEMBER 2011)
Peserta mengirimkan biodata pribadi dalam 3 bahasa (bahasa daerah, bahasa Indonesia dan bahasa asing) secara langsung, via surat atau e-mail ke painfinder@gmail.com disertai pas foto berwarna berukuran 3x4 (2lembar) dan foto kopi KTP 1 lembar.
Membawa langsung karangan (2--5 halaman) tentang kebahasaan yang menampung pengertian, fungsi, tujuan penggunaan bahasa ibu, bahasa gaul/slang, bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Tuliskan juga ide-ide anda mengenai
a.) gejala penggunaan bahasa lokal dan asing yang telah mengintervensi kesadaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar,
b.) sikap anda mengenai hal tersebut, dan
c.) cara meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

2. TAHAP PENYELEKSIAN AWAL (27--30 SEPTEMBER 2011)

Tahap seleksi karangan oleh para juri sampai dengan tanggal 30 September dan akan segera diinformasikan bagi peserta yang lulus ke tahap final.

3. TAHAP FINAL (4 OKTOBER 2011)

Tahap final akan dilaksanakan tanggal 4 Oktober di hotel Bumi Asih dengan sistem presentasi karangan dan wawancara langsung. Panitia hanya menanggung konsumsi pada saat acara berlangsung.
 
Untuk keterangan lebih lanjut dapat mendatangi Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jalan Letkol Saleh Ode No. 104, Kacangpedang, Pangkalpinang, atau menghubungi Khaliffitriansyah, S.Pd (085656852021) atau Feri Pristiawan, S.S. (085228414996)
Read more...

27 Agustus 2011

Pemilihan Duta Bahasa 2011 Provinsi Jawa Timur

0 komentar
Latar Belakang

Sebagai bahasa yang berkembang, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat pemakainya. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia, keanekaragaman penuturnya, serta cepatnya perkembangan teknologi informasi merupakan kondisi yang menciptakan beberapa permasalahan kompleks dalam bidang kebahasaan. Salah satu ekses dari kondisi tersebut adalah merebaknya penyebaran dan penggunaan bahasa asing di tengah perkembangan bahasa Indonesia. Idealnya, kecintaan terhadap bahasa Indonesia harus terus dikembangkan demi menjaga martabat bahasa Indonesia. Pemartabataan bahasa tersebut akan bermuara pada pembentukan karakter dan penumbuhan rasa nasionalisme.

Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai Bahasa Surabaya mulai tahun 2006 telah melakukan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Jawa Timur. Para duta bahasa yang sudah terpilih akan menjadi mitra kerja Balai Bahasa Surabaya dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang tertib. Tahun 2011 ini, Balai Bahasa Surabaya kembali menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Jawa Timur.

Tujuan dan Hasil yang Diharapkan

Tujuan diadakan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Jawa Timur 2011 adalah sebagai berikut.
  • Membangkitkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Menambah wawasan generasi muda tentang bahasa Indonesia
  • Mencari tunas muda yang mampu berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan berbahasa asing
  • Menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia
  • Bagi duta yang terpilih dapat memengaruhi lingkungannya untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pendaftaran dilaksanakan tanggal 18 Juli—5 September 2011. Peserta dapat datang secara langsung ke Balai Bahasa Surabaya atau menghubungi panitia melalui telepon/faksimile/pos-el. Pelaksanaan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2011 akan dilaksanakan pada hari Rabu, 14 September 2011 di Balai Bahasa Surabaya, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo, pukul 08.00—selesai. Seleksi menggunakan sistem gugur. Pemenang yang lulus akan diikutsertakan dalam seleksi tingkat nasional di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.

Ketentuan Umum
  • Selama tahap seleksi, peserta wajib berpakaian batik.
  • Tidak disediakan transpor peserta untuk tahap seleksi di Balai Bahasa Surabaya.
  • Peserta bersedia mengikuti semua tahapan penyeleksian di Balai Bahasa Surabaya.
  • Panitia membatasi jumlah peserta maksimal 25 pasang. Setelah kuota tersebut terpenuhi, pendaftaran peserta secara otomatis ditutup.
Persyaratan Peserta

Calon Peserta Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Jawa Timur tahun 2011 harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
  • Berusia 18—25 tahun yang dapat dibuktikan dengan KTP
  • Belum menikah
  • Berpendidikan minimal SLTA
  • Berkepribadian baik dan berpenampilan menarik, tinggi badan minimal 160 cm (putri) dan 165 cm (putra)
  • Mampu berbahasa Indonesia lisan di depan umum
  • Mampu berbahasa tulis/membuat dan mempresentasikan makalah
  • Menguasai salah satu bahasa daerah di Jawa Timur dan mampu berbahasa asing.
Kriteria Penilaian

Calon Peserta Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Jawa Timur tahun 2011 akan dinilai berdasarkan materi-materi sebagai berikut.
  • Tes UKBI
  • Pemakaian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
  • Wawasan tentang Sastra dan Budaya Jawa Timur
  • Kemampuan Berbahasa Daerah dan Asing
  • Etika dan Penampilan Peserta
Hadiah

Pemenang akan mendapatkan piagam, piala, dan uang tunai

Pemenang I (sepasang) Rp2.000.000,00 (dipotong PPh sebesar 5%)

Pemenang II (sepasang) Rp1.500.000,00 (dipotong PPh sebesar 5%)

Pemenang III (sepasang) Rp1.000.000,00 (dipotong PPh sebesar 5%)

Pemenang I (sepasang) akan mewakili Provinsi Jawa Timur dalam Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.

Panitia Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Jawa Timur
Balai Bahasa Surabaya
Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo
Telepon/Faksimile 031-8051752, 8071349
Pos-el: dutabahasa_2011@yahoo.com

Kontak Panitia
Khoiru Ummatin 081332165855
Laily 081332138188
Read more...

Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011

0 komentar
Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan akan menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Sumatera Tahun 2011 yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 -- 29 September 2011.

Persyaratan

Peserta Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 adalah sebagai berikut.
  1. warga negara Indonesia;
  2. berusia maksimal 25 tahun yang dibuktikan dengan surat keterangan penduduk dan belum menikah;
  3. sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
  4. tinggi badan minimal 165 cm untuk laki-laki dan 155 cm untuk perempuan;
  5. minimal lulus SLTA yang dibuktikan dengan menunjukkan ijazah terakhir;
  6. berkepribadian baik dan berpenampilan menarik;
  7. mampu berbahasa Indonesia lisan di depan umum;
  8. mampu membuat dan menyajikan makalah;
  9. mampu berbahasa daerah dan berbahasa asing;
  10. peserta berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.
Tahapan Pengujian

Peserta Pemilihan Duta Bahasa Tahun 2011 akan diuji melalui dua tahap pengujian. Tahap pertama adalah Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) dan TOEFL (atau yang setara), dan tahap kedua adalah Penyajian Makalah. Hasil dari kedua tahapan ujian itu yang akan menjadi penentu terpilihnya Duta Bahasa Tahun 2011. Tahap selanjutnya, Duta Bahasa Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 akan diikutsertakan dalam Pemilihan Duta Bahasa Tahun 2011 di Tingkat Nasional di Jakarta.

Tema makalah yang akan disajikan dalam penilaian lisan adalah sebagai berikut.
  • Kearifan lokal Sumatera Selatan.
  • Sikap positif terhadap bahasa Indonesia dan daerah oleh generasi muda.

Waktu dan Syarat Pendaftaran

Pendaftaran dimulai pada tanggal 1 Agustus 2011 sampai dengan 12 Sepetember 2011. Syarat Pendaftaran:

a. mengisi formulir pendaftaran,
b. menyerahkan dua lembar foto terbaru ukuran 4x6,
c. menyerahkan satu lembar fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP),
d. menyerahkan satu lembar fotokopi ijazah terakhir yang telah dilegalisir,
e. menyerahkan satu rangkap fotokopi makalah ilmiah/artikel yang pernah ditulis (jika ada),
f. menyerahkan empat rangkap fotokopi makalah ilmiah yang akan disajikan dalam tes lisan.


Pemenang

Pemenang Duta Bahasa dan Wakil Duta Bahasa akan mendapatkan piala, hadiah berupa uang pembinaan dan bingkisan. Sepasang Duta Bahasa akan dikirim ke Pusat Bahasa Jakarta untuk mewakili Provinsi Sumatera Selatan di pemilihan tingkat nasional.

Alamat Panitia:
BALAI BAHASA
PROVINSI SUMATERA SELATAN
Jalan Seniman Amri Yahya, Kompleks Taman Budaya Sriwijaya, Seberang Ulu 1, Jakabaring, Palembang
Telepon (0711) 7539500, faksimile (0711) 7539555

Narahubung:
Dyah Susilawati, M. Hum. (08153806343)
Erlinda Rosita, S.Pd. (081278286574)
Taufiq Awaluddin, S.S. (081368300317)
Read more...

Duta Bahasa Provinsi Bali 2011

0 komentar
Rangkaian kegiatan Pemilihan Duta Bahasa Provinsi Bali 2011 telah berakhir. Kegiatan yang dimulai 18 April, saat dibukanya pendaftaran peserta dan ditutup pada 8 Juli ini diakhiri pada 12 Agustus 2011 saat acara final diselenggarakan.

Tes UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia) diikuti oleh 25 peserta yang lolos di babak seleksi makalah. Tes yang diselenggarakan pada 29 Juli ini sebagai penentu masuk tidaknya peserta ke babak selanjutnya. Akumulasi nilai makalah dan UKBI menghasilkan 12 peserta terbaik, 6 peserta putri dan 6 peserta putra.

Babak pembekalan dan seleksi diadakan pada 8—9 Agustus yang diikuti oleh keenam pasang finalis. Dewan juri terdiri atas Drs. C. Ruddyanto, M.A. (Kepala Balai Bahasa Denpasar), Drs. I Made Madia, M.Hum., dan I G. A. A. Mas Tri Adnyani, S.S., M.Hum. (keduanya adalah dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana).

Acara final diadakan pada 12 Agustus 2011 di Balai Bahasa Denpasar. Duta Bahasa yang terpilih adalah I Made Subagiarta dari Universitas Udayana dan Ni Nyoman Ayu Suciartini dari Universitas Pendidikan Ganesha.

Hasil lengkap Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Provinsi Bali Tahun 2011 sebagai berikut.

Juara I
I Made Subagiarta (Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana)
Ni Nyoman Ayu Suciartini (Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Ganesha)

Juara II
I Putu Ariek Mahardika Putra (STP Nusa Dua Bali)
Lina Pratica Wijaya (Fakultas Sastra, Universitas Udayana)

Juara III
Donnie Weda Dharmawan (PGSD, Universitas Pendidikan Ganesha)
Ni Luh Ayu Eka Suari, S.Pd. (Alumni IKIP PGRI Bali)

Juara harapan I
I Komang Mertayasa (STP Nusa Dua Bali)
Ni Putu Sugilastini (Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha)

Juara harapan II
I Gst. Ngr. Md. Yudhi Saputra (STIKES Wira Medika)
Ni Wayan Yulia Wati (IKIP Saraswati Tabanan)

Juara harapan III
Dewa Putu Agus Widiasa (IKIP PGRI Bali)
Putu Arie Wulandari (STIKES Bali)

Dengan demikian, I Made Subagiarta dan Ni Nyoman Ayu Suciartini akan mewakili Bali pada Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober tahun ini.
Read more...

28 Juli 2011

Pemenang Duta Bahasa Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011

0 komentar
Berdasarkan hasil penilaian oleh Dewan Juri yang terdiri atas:

Drs. Widada, M.Hum. dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah;
Widiyartono R., S.S. dari Forum Bahasa Media Massa;
Drs. Slamet Mulyono, M.Pd. dari Himpunan Pembina Bahasa Indonesia.

Setelah menilai dan mempertimbangkan berbagai aspek, yaitu penampilan, kebahasaan, dan pengetahuan budaya, dewan juri memutuskan pemenang Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011, sebagai berikut.

Pemenang I Putra : Hanifan Fuadi Fathul M. dari Kota Surakarta
Pemenang I Putri : Elizabeth Yuniar dari Kota Surakarta

Pemenang II Putra : Andre Wijaya Binarto dari Kota Magelang
Pemenang II Putri : Sulistyoko Agustina dari Universitas Dian Nuswantoro

Pemenang III Putra : Tri Susilo dari Kabupaten Sukoharjo
Pemenang III Putri : Ayu Wulandari dari Universitas Sebelas Maret

Pemenang Harapan I Putra : M. Badrus Siroj dari Universitas Negeri Semarang
Pemenang Harapan I Putri : Putri Amalia Rizkina dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Pemenang Harapan II Putra : Rizky Afianto dari Universitas Katolik Soegijopranoto
Pemenang Harapan II Putri : Infra Ranisetya dari Kabupaten Temanggung

( Panitia Duta Bahasa / Tim Laman Balai Bahasa )
Read more...

Fadli-Meiwanda Duta Bahasa Riau 2011

0 komentar

Kepala Balai Bahasa Riau, Drs Agus Sri Danardana M Hum, memberi ucapan selamat kepada Duta Bahasa Riau 2011, Fadli Irsal dan Geovani Meiwanda, di Kantor Balai Bahasa Riau, Selasa (26/7/2011). (Foto: dedi sungkono/ riau pos)

KOTA (RP) - Fadli Irsal dan Geovani Meiwanda terpilih menjadi Duta Bahasa Riau 2011, setelah menyisihkan 28 finalis lainnya dalam acara final yang berlangsung di Kantor Balai Bahasa Provinsi Riau, Panam, Selasa (26/7) kemarin. Dengan demikian, keduanya berhak mewakili Riau dalam pemilihan Duta Bahasa Indonesia 2011 di Jakarta, Oktober 2011 nanti.

Tiga juri, masing-masing budayawan Al azhar, Kepala Balai Bahasa Riau Drs Agus Sri Danardana M Hum, dan jurnalis/sastrawan Hary B Kori’un, sepakat memenangkan keduanya, karena dianggap memiliki kemampuan di atas peserta lainnya. Fadli Irsal mengalahkan 14 finalis putra dengan nilai 720, sedang Geovani Meiwanda juga menyisihkan 14 finalis putri lainnya dan mengumpulkan nilai 715.

“Ada tiga variabel yang menjadi dasar penilaian kami. Yakni tes tertulis tentang bahasa Indonesia, makalah yang mereka buat, dan yang terakhir adalah kemampuan mereka dalam menyampaikan pikiran-pikiran dalam menjawab pertanyaan juri termasuk di dalamnya perfoma, kecakapan berbicara, dan dan kemampuan pengetahuan,” jelas Ketua Dewan Juri, Al azhar, ketika menyampaikan pengumuman pemenang.

Menurut Al azhar, pada dasarnya seluruh peserta memiliki nilai yang hampir sama, karena sudah lolos seleksi lewat teks tertulis. Dan untuk mencari pemenangnya, dewan juri memang harus bekerja keras karena nilai para finalis bedanya sangat tipis.

Al azhar berharap, dua pemenang yang akan mewakili Riau ke iven nasional nanti, benar-benar mempersiapkan diri, terutama menambah pengetahuan tentang kebudayaan Melayu Riau, sastra, pengetahuan kebahasaan, dan belajar berpantun secara improvisasi. “Itu penting, karena menjadi salah satu identitas masyarakat Riau yang dikenal luas di luar Riau,” ujarnya.

Selain memilih pemenang pertama putra-putri, juri juga memilih empat pemenang lainnya. Untuk juara kedua putra diraih oleh Chandra Alfindodes, Risky Bagus Oka (III), RM Yusuf Trisna Jaya (harapan I), dan Hendra Darmawan (harapan II). Sedang di kelompok putri, juara kedua diraih Dina Nurul Syafira, Fahny Agnifa (III), Sulis Septisora (harapan I), dan Fizia Hayati (harapan II).

Kepala Balai Bahasa Riau, Agus Sri Danardana, menjelaskan, acara pemilihan Duta Bahasa Riau ini akan menjadi agenda tahunan lembaga yang dipimpinnya, dan berharap banyak anak-anak muda Riau yang mengikutinya di masa depan, agar anak-anak muda terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik.

“Alhamdulillah, hari ini telah terpilih, dan kami berharap mereka juga bisa berprestasi lebih jauh di tingkat nasional,” jelas mantan Kepala Kantor Bahasa Lampung ini.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Arpina SPd, menjelaskan, persiapan panitia selama ini sudah lumayan maksimal, dan berharap peserta yang terpilih mewakili Riau kali ini juga memang benar-benar memiliki kemampuan yang maksimal. “Kami percaya, dewan juri telah bekerja keras untuk memilih yang terbaik dari yang baik,” jelas Arpina.

Geovani Meiwandi mengaku surprise dengan kemenangan dirinya. Namun dia bersyukur bisa mewakili Riau di iven nasional. “Saya sangat surprise, dan semoga bisa mengharumkan Riau di tingkat nasional nanti,” kata gadis berparas tinggi ini.(gem)

Read more...

Dua Pasang Muda Mudi Jadi Duta Bahasa Jabar 2011

0 komentar

BANDUNG - Dua pasang muda-mudi menjadi Duta Bahasa Jawa Barat 2011. Mereka terpilih setelah lolos mengikuti seleksi 10 besar duta bahasa di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

Pemenang utama pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2011 adalah Yesi Haerunisa dan Pradipta Dirgantara. Sedangkan juara favorit adalah pasangan Wenda Averroes Akil dan Farah Vauzia.

Selanjutnya, para duta akan mengisi kegiatan di Komunitas Pecinta Bahasa Indonesia yang ada di Balai Bahasa Bandung (BBB).

Yesi Haerunisa mengungkapkan, setelah terpilih menjadi duta bahasa dia akan membawa kominitas untuk lebih aktif di dunia maya.

"Saya juga akan menjalankan program baca tulis bagi anak jalanan dan kurang mampu," kata Yesi, usai terpilih menjadi Duta Bahasa, Kamis (21/7/2011).

Menurutnya, program sosialisasi bahasa sangat penting untuk memberantas buta huruf di Jabar. "Jumlah buta huruf di Jawa Barat cukup besar," tambah mahasiswa Farmasi Universitas Padjdjaran (Unpad) tersebut.

Duta Bahasa Jawa Barat 2007, Anarima Syafitri menyebutkan, pemilihan duta bahasa diikuti 141 peserta, yakni 80 perempuan dan 61 laki-laki.

"Bahasa mengedepankan logika yang tidak hanya dimiliki anak jurusan bahasa saja. Duta bahasa tidak hanya menjabat setahun, tapi menjadi jabatan seumur hidup," jelasnya.
(rhs)

Sumber: Okezone.com, 21 Juli 2011
Read more...

17 April 2011

Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2011

0 komentar


Read more...