blog ini merupakan blog duta bahasa, berisi segala informasi mengenai pemilihan duta bahasa, berita-berita seputar para duta, kegiatan para duta dan pemikiran-pemikirannya.
 
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

21 Agustus 2012

PEMILIHAN DUTA BAHASA DIY TAHUN 2012

0 komentar

Pada tahun 2012 ini Balai Bahasa Yogyakarta kembali menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2012 adalah kali keempat penyelenggaraan Pemilihan Duta Bahasa. Pemilihan Duta Bahasa ini ditujukan untuk (1) membangkitkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, (2) mencari tunas bangsa yang berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan berbahasa asing secara proporsional, dan (3) memilih generasi muda untuk menjadi duta pemasyarakatan bahasa Indonesia. 

Syarat
1. Warga Negara Indonesia
2. Berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta (ditunjukkan dengan kartu identitas)
3. Berusia antara 18 - 25 tahun
4. Belum menikah
5. Berpendidikan minimal SLTA
6. Mampu berbahasa Indonesia secara lisan dan tulis, serta berbahasa daerah dan asing.
7. Sehat jasmani dan rohani

Kelengkapan Pendaftaran:
1. Biodata diri
2. Foto pose (ukuran 5R)
3. Fotokopi KTP/KTM
4. Surat Keterangan Dokter
5. Fotokopi sertifikat keterampilan khusus (jika ada)

Tahapan Seleksi:
1. Pendaftaran dan seleksi berkas (17 Juli - 31 Agustus 2012)
2. Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia - UKBI (6 September 2012)
3. Pengumuman hasil UKBI dan penentuan 20 nomine (11 September 2012)
4. Wawancara dan penentuan 10 nomine (19 September 2012)
5. Pengumuman pemenang (24 September 2012)

Hadiah
Hadiah akan diberikan kepada tiga pasang pemenang:
1. Peringkat I       @Rp1.500.000,00
2. Peringkat II      @Rp1.250.000,00
3. Peringkat III     @Rp1.000.000,00

Peringkat I akan dikirim sebagai wakil dari Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat nasional di Jakarta.

Kontak
Panitia Pemlihan Duta Bahasa Propinsi DIY
Telepon (0274) 562070, Faksimile (0274) 580667
Read more...

28 Oktober 2011

(MEN-) CINTAI (-LAH) BAHASA INDONESIA

0 komentar

Titik nol kilometer Yogyakarta, atau yang acap disebut perempatan Kantor Pos, seringkali digunakan untuk demonstrasi, atau setidaknya berbagai macam ekspresi budaya. Setelah orde baru lengser, lokasi titik nol bukan lagi area terlarang untuk melakukan sejumlah aktivitas. Karena, pada rezim orde baru, lokasi ini ‘steril’ untuk kegiatan publik.

Jum’at pagi (28/10) lalu, titik nol kilometer, ada sejumlah perempuan cantik yang mengenakan t’shirt warna putih dan membawa spanduk yang dibentangkan. Spanduk itu bertuliskan, ‘Aku Mencintai Bahasa Indonesia’ atau ‘100 % Mencintai Bahasa Indonesia’. Rupanya, untuk meperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011, Balai Bahasa Yogyakarta melakukan kampanye ‘Gerakan Cinta Bahasa Indonesia’

Berbagai macam spanduk bertuliskan menyangkut bahasa Indonesia dibentangkan di titik nol kilometer. Spanduk warna putih misalnya bertuliskan ‘Kalau bukan dengan Bahasa Indonesia Dengan Apa lagi kita mempersaukan Bangsa?” . Kalimat-kalimat lain sejenis, seolah memberikan informasi kepada publik, bahwa bahasa Indonesia sedang ‘terancam’. Untuk di Yogya, pastilah bukan ‘terancam’ bahasa Jawa. Karena, ada banyak keluarga muda yang melakukan komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia.

Atau, bahasa Indonesia sedang terancam terhadap bahasa asing? Mengingat di Yogya ada sejumlah kursus yang membuka kursus bahasa asing, tapi tak satupun lembaga kursus yang membuka kursus bahasa Indonesia. Padahal, seringkali kita menemukan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak tepat, yang dalam ‘norma bahasa’ belum baik dan benar. Yang paling parah, menemukan penggunaan bahasa Indonesia dengan campuran dialeg lokal, atau kalau di Jakarta dikenal dengan istilah ‘lu’ atau ‘gue’. Misalnya, ‘emang lu sudah baca?’. Inilah potret bahasa Indonesia kita.

Para mahasiswa(i) dari beberapa Perguruan Tinggi, yang tentu saja dilibatkan oleh Balai Bahasa Yogya melakukan kampanye cinta terhadap bahasa Indonesia. Memang, kalau bukan kita sendiri siapa yang mencintai bahasa Indonesia. Padahal kita bisa tahu, ada orang asing, setidaknya seperti Ben Andreson, memiliki kemampuan bahasa Indonesia, yang barangkali lebih baik dari orang Indonesia sendiri.

Momentum peringatan Sumpah Pemuda dipakai untuk mengingatkan pada bangsa, bahwa Bahasa Indonesia telah mempersatukan bangsa. Kampanye mencitai Bahasa Indonesia, sekaligus memiliki arti cinta pada NKRI dan sekaligus pula memupuk rasa nasionalisme. Tanpa mencitai Bahasa Indonesia, artinya kita sudah mencoba mengingkari persatuan.

Titik nol kilometer, yang lokasinya berada di tengahl pusat kekuasaan tradisional dan modern. Simbol kekuasaan tradisional berupa kerajaan, dalam hal ini Kraton Yogyakarta. Simbol kekuasaan modern berupa Istana Negara ‘Gedung Agung’. Di lokasi ini kampanye cinta Bahasa Indonesia dilakukan.

Spanduk warna merah. Spanduk warna putih. Setidaknya sudah melambangkan nasionalisme. Karena kedua warna itu adalah warna bendera kebangsaan, yakni merah putih. Pilihan warna spanduk, kiranya dengan penuh sadar diambil, yakni spanduk merah dan putih. Warna untuk menulis kalimat di spanduk juga merah dan putih.

Rasanya, memang perlu selalu sering diingat-ingatkan akan pentingnya Bahasa Indonesia. Meski bukan berarti melarang untuk menguasai bahasa asing. Hanya saja, tidak perlu melupakan bahasa Indonesia hanya karena sudah menguasai bahasa asing.

Mari, bersama kita tumbuhkan cinta pada Bahasa Indonesia dan cinta pada negeri ini. (Ons Untoro)

Sumber: http://www.tembi.org/cover/2011-10/20111031-MENCINTAILAH_BAHASA_INDONESIA.htm
Read more...

12 Januari 2011

Urgensi Bahasa Indonesia ala Uut

0 komentar
Satu momen yang menjadi batu loncatan bagi Bangsa Indonesia ialah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah inilah yang membuat para pemuda menjadi satu, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia. Sumpah tersebut juga menjadi bukti nyata peran pemuda dalam membangun konsep kebangsaan Indonesia. Semangat dan ketokohan para pemuda itu harus dipertahankan dan diperkuat agar tonggak-tonggak kebangsaan tetap kokoh dan terjaga. Pemilihan Duta Bahasa adalah upaya melibatkan pemuda Indonesia dalam menjaga tonggak-tonggak kebangsaan itu. Mereka pemuda dan pemudi Indonesia yang memiliki kemahiran berbahasa yang sikap dan perilakunya dapat dijadikan teladan. Berkaitan dengan itu, Pusat Bahasa mulai tahun 2006 telah melakukan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional. Tahun 2010 ini, Pusat Bahasa kembali menyelenggarakan Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional.

Salah satu sosok yang mewakili Yogyakarta adalah Kurnia Tri Utami. Ia merupakan mahasiswi aktif Psikologi angkatan 2008. Perempuan yang akrab dipanggil dengan Uut ini terpilih sebagai finalis Duta Bahasa 2010. Bersama dengan puluhan kontestan yang lain, ia harus menjalani karantina selama seminggu di Djakarta. Banyak kesan menarik dan pengalaman yang didapat selama karantina, walaupun gelar juara belum dapat dibawa pulang.

Seperti dikutip dalam situs resmi Padmanaba “Kami selalu melakukan kegiatan bersama, hal itulah yang membuat kami 20 pasang finalis dari provinsi se-Indonesia menjadi dekat, meskipun kami bersaing untuk mendapatkan yang terbaik. Hingga perpisahan tiba, suasana haru pun menyelimuti, rasanya tidak ingin berpisah dengan mereka semua. Bayangkan saja, kapan lagi kami bisa berkumpul dengan teman-teman dari provinsi lain di seluruh Indonesia, kalau bukan karena ada suatu momen,” ujar mahasiswa Psikologi UGM yang juga berprofesi sebagai penyiar radio ini.

Perempuan kelahiran 21 tahun silam ini mengaku mendapat kosakata bahasa Indonesia yang baik dan benar, seperti microphone dengan pelantang, snack dengan kudapan, download dengan unduh, upload dengan unggah, dan banyak lagi. Ia juga menambahkan bahwa bahasa Indonesia berperan penting dalam menyatukan bangsa ini. Hal tersebut dapat kita lihat dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Kita boleh saja mempelajari bahasa asing, namun tetap tidak melupakan bahasa nasional. Jangan sampai peran bahasa Indonesia ini tergeser dengan bahasa asing yang lain,” tutupnya.

Bangsa Indonesia sangat beragam, dari Sabang hingga Merauke memiliki corak dan bahasa yang berbeda. Bahasa Indonesia merupakan salah satu alat untuk pemersatu Bangsa ini. Meskipun kita belajar bahasa asing namun kita tetap harus melestarikan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Itulah pesan yang ingin dia sampaikan melalui ajang Duta Bahasa 2010 ini.

sumber: laman psikologi.ugm.ac.id, edisi 14 Desember 2010
Read more...

30 November 2008

MEWAKILI DIY, DUA MAHASISWA UGM DINOBATKAN SEBAGAI DUTA BAHASA NASIONAL 2008

0 komentar
Dhinar dan Analisa Bersama Piagam Penghargaan

Bahasa dalam tayangan sinetron perlu dicermati. Begitulah pesan yang disampaikan dua mahasiswa UGM, Dhinar Arga Dumadi dan Analisa Widyaningrum yang telah ditetapkan sebagai pemenang Duta Bahasa Indonesia tahun 2008.

Menurutnya, bahasa sinetron telah mengundang keprihatinan karena penggunaannya yang tidak mengenal tempat. Bahasa sinetron atau "bahasa gaul" dinilai telah digunakan secara salah kaprah. Yaitu digunakannya bahasa tidak baku (non formal) dalam situasi formal.

"Sebagai Duta Bahasa, kami ini kan mitra kerja pusat-pusat bahasa dan Balai Bahasa yang ada. Oleh karena itu kami ingin mengoptimalkan berbagai program kerja yang telah ada. Salah satunya terkait dengan program penggunaan bahasa," ujar keduanya, Jum'at (12/12) di ruang Fortakgama UGM.

Dhinar Arga Dumadi, mahasiswa Sastra Perancis FIB UGM angkatan 2008 dan Analisa Widyaningrum, mahasiswi Psikologi UGM angkatan 2007 adalah wakil Provinsi DIY. Keduanya dinobatkan sebagai Duta Bahasa Nasional tahun 2008 setelah melewati beberapa tahapan seleksi, dan berhasil menyisihkan 25 peserta lain dari seluruh Indonesia saat seleksi tingkat nasional tanggal 20-27 Oktober 2008 lalu di Depdiknas. Keduanya lolos setelah melalui berbagai kriteria penilaian. Berbagai kriteria tersebut antara lain kemampuan bahasa Indonesia, bahasa asing dan daerah, hingga pembuatan makalah serta penyajiannya di hadapan dewan juri dari Pusat Bahasa.

Khusus untuk pembuatan makalah, ujar Dhinar, mereka berdua yang satu tim ini membuat sebuah judul "Bahasa Sinetron Sebagai Pemicu Rusaknya Jati Diri Bangsa". Dalam makalah itu mereka menyoroti dampak dari penggunaan bahasa Indonesia terhadap perilaku/kesopanan dan efek psikologis terhadap masyarakat, khususnya anak-anak.

"Bahasa sinetron kita akui banyak digunakan tidak pada tempatnya sehingga sering membuat kesalahan pula ketika dipraktekan di masyarakat. Ironisnya banyak pula yang secara psikologis menyebabkan efek negatif bagi anak karena bahasanya yang kasar dan tidak sopan," tutur Dhinar.

Sementara, Analisa Widyaningrum menambahkan setelah mereka berdua berhasil menyabet gelar duta bahasa, maka pada tanggal 28-31 langsung diikutsertakan dalam Kongres Bahasa Indonesia tingkat Internasional di Jakarta. Konggres ini, katanya, diikuti oleh 20 negara dunia seperti China, Australia, dan Jerman.

"Jelas kita bangga karena ternyata bahasa Indonesia di luar negeri sudah diajarkan. Bahkan di China dibuka pula jurusan Bahasa Indonesia pada salah satu Universitasnya," terang Analisa.

Dengan kemenangan tersebut mereka berdua berhak mendapatkan hadian piagam, uang pembinaan masing-masing Rp 7 juta serta pin emas. Sebagai Duta Bahasa Nasional, keduanya akan menjalankan tugas-tugas secara terus menerus.

"Tidak ada batasan waktu. Seandainya nanti terpilih Duta Bahasa Nasional yang baru, maka itu akan menjadi mitra. Kami berdua tetap sebagai Duta Bahasa, istilahnya tambah teman dalam menjalankan tugas-tugas sebagai Duta Bahasa Nasional," tandas Dhinar (Humas UGM)

Sumber: http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1680
Read more...